Dari survei itu, sebanyak 57 persen mengaku sulit memahami materi pelajaran saat belajar online. Lebih dari setengah responden mengaku mereka rindu bermain dan mengobrol dengan teman-temannya.
Mata pelajaran yang dirasa sulit bagi anak-anak di Asia pasifik adalah matematika (48 persen), kimia (28 persen), fisika (25 persen) dan biologi (25 persen).
Sementara bagi orang tua, terdapat 68 persen responden yang tidak mau melanjutkan format belajar online setelah pandemi karena anak-anak terlalu sering berada di depan layar (68 persen) dan penurunan kualitas pendidikan secara umum (48 persen).
Hasil survei prefensi belajar tatap muka di Asia Pasifik, menurut Kaspersky, lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Anak-anak di Amerika Latin yang juga lebih menyukai belajar tatap muka berjumlah 75 persen, Afrika sebanyak 73 persen dan Timur Tengah 58 persen.
(Dyah Ratna Meta Novia)