JAKARTA - Setelah lebih dari dua tahun berburu exoplanet, TESS NASA saat ini memulai misi berikutnya. The Transiting Exoplanet Survey Satellite memulai misi pertamanya mengambil gambar galaksi pada Agustus 2018, dan sekarang NASA memiliki database besar pencitraan resolusi tinggi dari bintang-bintang jauh.
Pengamatan TESS ini mencari transit secara spesifik, sedikit redupnya cahaya bintang karena planet yang mengorbit di sekitarnya lewat di depan dari sudut pandang satelit. Dengan serangkaian kamera medan lebar, data TESS kemudian dapat digunakan untuk mengetahui faktor-faktor seperti massa, ukuran, kepadatan, dan orbit planet-planet tersebut.
Melansir dari Slashgear, misi utama TESS bertugas mengumpulkan gambar sekitar 75 persen langit. Tahun pertama difokuskan di langit selatan, melacak jalur 24 kali 96 derajat selama sekitar satu bulan masing-masing.
Kemudian, akan beralih ke langit utara untuk melakukan hal serupa. Sepanjang jalan teridentifikasi 66 exoplanet baru, bersama dengan 2.100 eksoplanet lain yang mungkin masih harus dikonfirmasi.
Selanjutnya, TESS melakukan misi diperpanjang, dengan kembali mempelajari langit selatan, tetapi dengan tingkat penangkapan yang jauh lebih cepat. Jika dalam misi utamanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk setiap penangkapan, pada misi kali ini akan dilakukan dalam waktu 10 menit.
Menurut NASA, kecerahan ribuan bintang sekarang dapat diukur setiap 20 detik. Ini akan digabungkan dengan metode asli, yang melihat kecerahan puluhan ribu bintang dilacak setiap dua menit.
Baca juga: Guncangan Dahsyat Awali Peristiwa Kiamat Dijelaskan Alquran dan Sains
Hasilnya, TESS mampu menangani dengan baik perubahan kecerahan yang disebabkan oleh osilasi bintang, serta mendapatkan detail yang lebih baik tentang suar dari bintang aktif. Jika semua berjalan sesuai rencana, misi yang diperpanjang ini akan berlangsung hingga September 2022.
Tujuan dari misi ini adalah dengan menggunakan data TESS untuk mengidentifikasi kemungkinan situasi "Goldilocks", sebuah planet ekstrasurya yang mirip dengan Bumi.
(Ahmad Luthfi)