"Pada kasus adiksi ada bagian dari otak pecandu yang rusak, yakni area yang namanya pre-frontal cortex, dimana ketika dilakukan pencitraan otak, di daerah itu didapati rusak, ketimbang mereka yang tidak kecanduan." kata Siste.
"Area ini bertanggung jawab untuk mengendalikan diri, perilaku dan juga impuls yakni hal-hal yang dilakukan tanpa berpikir lagi. Jadi kalau bagian ini rusak dia gak bisa lagi berpikir, jadi langsung melakukan sesuatu dan perilakunya itu menimbulkan apa yang disebut neurotransmitter dopamine yang membuat dia merasa bahagia."
Menurut Siste dalam jangka panjang kecanduan game online juga dapat memicu gangguan fungsi eksekutif untuk membuat perencanaan.
"Bisa dibayangkan seperti apa kualitas sumber daya manusia Indonesia nantinya. Kalau generasi muda kita banyak yang tidak bisa mengeksekusi pekerjaan karena mereka tidak tahu urutan melakukan sesuatu [membuat perencanaan] akibat kerusakan pada otaknya tersebut." ungkapnya.
Baca Juga: Kecanduan Game Ganggu Anak-Anak Mengerjakan Pekerjaan Rumah
(Ahmad Luthfi)