JAKARTA - Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin inilah ungkapan yang tepat bagi Facebook saat ini. Hal ini dikarenakan di tengah kisruh kasus kebocoran data yang terjadi saat ini, salah satu pentolan Facebook yang membawahi divisi keamanan layanan, Alex Stamos dikabarkan akan mengundurkan diri.
Alex dikabarkan akan mengundurkan diri dari jabatannya mulai Agustus. Meski demikian, dia menegaskan bahwa dirinya saat ini masih bekerja untuk Facebook sampai hari pengunduran dirinya tiba.
Despite the rumors, I'm still fully engaged with my work at Facebook. It's true that my role did change. I'm currently spending more time exploring emerging security risks and working on election security.
— Alex Stamos (@alexstamos) March 19, 2018
“Meskipun ada desas-desus, saya masih terlibat sepenuhnya dengan pekerjaan saya di Facebook. Memang benar peran saya berubah. Kini saya menghabiskan banyak waktu untuk mengeksplorasi risiko keamanan uang muncul dan bekerja untuk keamanan saat pemilu,” ujar Alex seperti dikutip dari laman New York Times.
Baca Juga : Eks Pendiri WhatsApp Ajak Netizen Hapus Akun Facebook, Ada Apa?
Rencana keluarnya Alex membuat dugaan terkait adanya ketegangan dan kondisi yang kian memanas di antara para pemimpin pun semakin kuat. Apalagi, kini CEO Facebook Mark Zuckerberg diminta menyelesaikan hal ini secepatnya.
Beberapa karyawan pun menyatakan bahwa saat ini adanya gejolak di dalam internal Facebook. Salah satu kubu menyebutkan bahwa Facebook wajib terbuka kepada para penggunanya soal penyalahgunaan data serta tindakan intervensi platform mereka. Salah satu yang menyuarakan hal tersebut adalah Alex.
Baca Juga : Ini Risiko Main Tes Kepribadian Sembarangan di Facebook
Sekadar informasi, beberapa waktu lalu Facebook diduga telah menyebarkan sekira 50 juta data pengguna Facebook ke sebuah firma analisis. Firma ini kemudian memberikan data tersebut kepada Donald Trump untuk memenangkan pemilihan Presiden Amerika.
Pihak Facebook sudah membantah hal tersebut. Mereka berdalih, kebocoran data ini muncul dari salah satu pemilik aplikasi yang mengharuskan penggunanya login dengan akun Facebook mereka. Di sinilah Facebook menduga ada yang menjual atau membagikan data pribadi tersebut. (chn)
(Kemas Irawan Nurrachman)