Studi mengenai tikus ini baru menemukan hal apa yang disebut “bukti samar-samar” untuk kerusakan DNA, tumor otak, dan beberapa kanker lainnya. Namun, itu semua tidak jelas apakah itu terkait dengan ponsel. Bukti kerusakan DNA terlihat dari beberapa jaringan pada hewan, tapi hal tersebut tidak bisa dianggap sebagai bukti biologis yang signifikan.
Hasilnya, temuan ini gagal meyakinkan para kritikus mengenai radiasi ponsel yang selama ini ada, seperti David Carpenter, kepala kesehatan lingkngan di University of New York di Albany. Carpenter juga mengatakan bahwa penelitian ini tidak cukup unutk menemukan beberapa masalah langka dan mengklaim semua masalah secara samar-samar tentang tumor otak.
Seperti yang dilansir dari CBSnew, pada tahun 2011 sebuah organisasi dari International Agensy for Research on Cncer mengatakan bahwa ponsel bersifat karsinogenik. Lalu diantara penelitian yang terjadi tahun 2010 di 13 negara menemukan hal yang tidak meyakinkan. Sebuah penelitian di Denmark pun tidak menemukan risiko penggunaan ponsel lebih dari 13 tahun yang menyebabkan kanker.
Akhirnya pada bulan Desember, Negara bagian di California mnegurangi paparan dari frekuansi radio di ponsel dengan menggunakan earphone.
(Kemas Irawan Nurrachman)