Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wallace Hume Carothers, Penemu Benang Nilon yang Berakhir Tragis

Qonita Chairunnisa , Jurnalis-Rabu, 10 Januari 2018 |07:36 WIB
Wallace Hume Carothers, Penemu Benang Nilon yang Berakhir Tragis
Ilustrasi benang nilon (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Bahan-bahan tersebut dibentuk oleh proses polimerisasi dan dikenal sebagai reaksi kondensasi. Dalam reaksi kondensasi, molekul tersebut bergabung dengan air sebagai produk sampingan.

Dalam proses tersebut, air yang dihasilkan oleh reaksinya menetes kembali ke dalam campuran dan melemahkan serat. Wallace Carothers kemudian memperbaiki proses itu dengan menyesuaikan peralatan, sehingga air disuling dan dikeluarkan dari proses pembuatan agar serat lebih kuat.

Menurut DuPont, nilon hadir dari penelitian tentang polimer yang dilakukan oleh Wallace dan rekan-rekannya, pada awal 1930-an di DuPont's Experimental Station. Pada April 1930, seorang asisten laboratorium yang bekerja dengan senyawa ester –yang menghasilkan asam dan alkohol, atau fenol, yang bereaksi dengan air – menemukan polimer yang sangat kuat.

Serat poliester tersebut memiliki titik lebur yang rendah, tapi Wallace mulai beralih bekerja dengan amida, yang berasal dari amonia. Pada 1935, Wallace menemukan serat poliamida yang kuat baik untuk panas maupun pelarut. Ia mengevaluasi lebih dari 100 poliamida yang berbeda sebelum memilih satu, nilon.

Poliamida yang ditemukan Wallace dihasilkan dari asam adipat dan heksametilenadiamina. Bahan tersebut akhirnya dipilih untuk dikembangkan dan dikenal dengan Nylon-66, karena masing-masing molekul penyusun terdapat enam atom karbon.

Pada 1936, Wallace menikahi Helen Sweetman, rekan kerjanya di DuPont. Tragisnya, Wallace bunuh diri sebelum kelahiran anak pertamanya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement