Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nah Lo! Konten Negatif Berkeliaran di Dunia Maya, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Dini Listiyani , Jurnalis-Kamis, 03 Agustus 2017 |17:15 WIB
Nah Lo! Konten Negatif Berkeliaran di Dunia Maya, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?
(Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA - Langkah perintah dalam memerangi konten negatif perlu diiringi dengan edukasi masyarat agar masyarakat Indonesia memiliki kesadaran bahwa kehidupan di dunia maya sama halnya dengan kehidupan di dunia nyata.

"Setelah channel radikalisme atau konten buruk diblokir, mereka enggak akan berhenti begitu saja, mereka akan mencari channel yang lebih secure dan itu banyak. Nah kita enggak bisa gitu-gitu terus (kejar-kejaran)," pakar keamanan siber CISSRec, Pratama Persadha dalam diskusi Redbons Okezone, Kamis (3/8/2017).

Menurutnya ada cara yang lebih baik yakni dengan mengedukasi masyarakat Indonesia sejak dini jika pemerintah menginginkan generasi mendatang tak terpapar konten negatif.

 (Baca juga: WhatsApp dan Telegram Sama-Sama Layanan Pesan Instan, Apa Bedanya?)

"Lalu caranya yang baik, yaitu dengan mengedukasi masyarakat kita sejak dini. Itu solusi yang cukup hebat agar masyarakat sadar kehidupan di dunia maya itu sama seperti di dunia nyata loh, kita harus jaga omongan kita," lanjutnya.

Di samping itu, pemerintah sendiri sedang gencar memberangu konten-konten negatif yang ada di media sosial seperti Facebook, Twitter dan lainnya. Bahkan bulan lalu, pemerintah membuat keputusan yang mencengangkan dengan memblokir Telegram.

Pemblokiran Telegram itu dilakukan karena Telegram dianggap memuat konten terorisme dan radikalisme. Buah dari pemblokiran tersebut akhirnya membawa sang CEO Pavel Durov menemui Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo).

Pavel dan Menkominfo membahas soal cara memblokir konten-konten yang berkaitan dengan propaganda terorisme di Telegram dan channel-channel yang berbau radikalisme.

 (Baca juga: Duh, Ini Kisah Jatuh Bangun Telegram hingga Pemblokiran di Indonesia)

Untuk menangkap konten negatif yang ada di Telegram, layanan pesaing WhatsApp itu telah membentuk tim yang membuat saluran langsung. Sehingga mereka bisa dengan cepat mendapat laporan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) soal bahaya channel atau chatting yang berhubungan langsung dengan terorisme.

Tak hanya itu, Pavel juga menyebutkan keinginnya untuk membuat kantor Telegram di Indonesia. Hanya saja ia menentukan di mana ia bakal membangun kantornya.

(Dini Listiyani)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement