Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sejarah Pengamatan Hilal, Telah Ada sejak Masa Rasulullah

Moch Prima Fauzi , Jurnalis-Jum'at, 26 Mei 2017 |15:59 WIB
Sejarah Pengamatan Hilal, Telah Ada sejak Masa Rasulullah
(Foto: Ist)
A
A
A

JAKARTA - Beberapa saat lagi umat Islam akan menunaikan ibadah puasa Ramadan. Sebelum menunaikan ibadah tersebut, ada persiapan yang dilakukan salah satunya yakni pemantauan hilal.

Pemantauan hilal dilakukan untuk mengetahui hari dimulainya berpuasa. Biasanya, hal tersebut dilakukan sehari sebelum jatuhnya waktu berpuasa dan Muslim mengawalinya dengan Salat Tarawih.

Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan, ”Jangan kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal (bulan sabit), dan jangan berbuka sampai melihatnya lagi. Jika bulan tersebut tertutup awan, maka sempurnakan bulan tersebut sampai tiga-puluh.”

Artinya, pengamatan hilal sendiri telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Saat itu cara penentuan hilal yang digunakan ialah melalui metode rukyat, yakni pengamatan pandangan mata.

"Nabi Muhammad selama hidupnya rukyat terus, sahabat rukyat terus, khulafaurrasyidin rukyat semua, tabi’in rukyat semua," kata ketua PBNU, Said Aqil Siroj, mengutip situs NU, Jumat (26/5/2017).

Untuk mencapai sebuah penetapan yang akurat, berbagai lembaga sains-astronomi di Indonesia melakukan pengamatan khusus terkait kemunculan bulan sabit (hilal) seperti BMKG, LAPAN, Planetarium, serta Observatorium Bosscha.

Untuk tahun ini, menurut hasil hisab Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konjungsi terjadi pada Jumat 26 Mei 2017 pukul 02.44 WIB. Tinggi hilal pada tanggal tersebut dari wilayah timur Indonesia yaitu di Jayapura, Papua 6,81 derajat, dan di wilayah barat indonesia yaitu di Tua Pejat, Sumatera barat 8,36 derajat.

(Kemas Irawan Nurrachman)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement