JAKARTA - Anggapan mengenai tunggangan sepeda motor, terutama motor gede (moge), hanya untuk kaum adam, tak jarang membuat "merah" telinga para perempuan biker.
Melalui berbagai cara, para perempuan biker membuktikan bahwa moge juga “mainan” mereka. Meski demikian, anggapan bahwa moge bukan untuk perempuan, dan mereka hanya cocok menggunakan motor matik, masih saja terdengar.
Hal itu seperti yang pernah dialami Tiara Dianing Tyas. Dara berusia 27 tahun itu mengungkapkan pernah disindir soal tunggangan kuda besinya, Kawasaki Ninja 250R, oleh pria biker.
"Soal anggapan moge cuma buat cowok, simpel saja. Coba hitung lebih banyak cewek naik moge atau cowok naik (motor) matik?” ucap Tiara kepada Okezone.
"Saya pernah dibegitukan (disindir) sama cowok. Kebetulan dia naik (motor) matik. Dia bilang, ‘Kok cewek naik moge sih?’ Saya balikin saja (sindirannya). ‘Nah, situ naik motor cewek. Sejak kapan motor bergender?’,” tuturnya.
Bak “suratan” Raden Adjeng Kartini yang pada hari ini, Selasa (21/4/2015), tengah diperingati, habis sindiran terbitlah kebanggaan pada diri Tiara.
Warga Depok, Jawa Barat, yang berprofesi sebagai karyawan swasta itu punya kepuasan tersendiri soal moge, yakni kebanggaan. Perempuan tak melulu harus dianggap hanya cocok dengan motor matik, tapi juga pantas dan setara menunggangi moge.
“Ada kebanggaan pribadi, bangga tapi bukan berarti menyombongkan diri lho ya. Bangga berkendara moge, apalagi cewek bawa moge,” lanjut Tiara.
Lebih jauh Tiara menyatakan terpengaruh dua hal soal kegemarannya pada moge sport. Hal yang pertama karena adik kelasnya, kedua lantaran terkesima melihat sosok perempuan biker di sebuah iklan televisi.
“Suka moge sebenarnya sejak SMA. Ada dua hal yang disuka dari moge. Yang pertama gara-gara adik kelas waktu SMA. Dia anak baru, datang (ke sekolah) pakai (moge) Honda. Waktu itu Honda itu sudah termasuk motor ‘wah’,” sambungnya.
“Yang kedua, karena lihat iklan kosmetik di TV. Ada (model iklannya) yang lagi pakai motor sport. Pas buka helm, dia ngibasin rambutnya. Enggak tahunya rider-nya cewek,” tandas perempuan lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta itu.
(Randy Wirayudha)