Yessie, sapaan akrab ibu dengan dua anak ini menceritakan awal kisah bekerja di PT XL Axiata pada 2003. "Pada saat itu, sangat menarik karena 2002-2003 itu XL masih sangat kecil. Saya masuk itu, pelanggannya hanya sekitar 1,5 juta pelanggan. Post-paid hanya sekitar 20 ribu pelanggan." kata Yessie.
Yessie merupakan lulusan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang mengambil teknik elektro dan sempat bekerja di bidang IT di XL selama 8 tahun, dari sejak 2003 hingga 2011. "Saya bergabung di XL, karena saya punya keahlian, saya ngerti network, tim-nya IT perlu orang untuk mentranslasikan antara dua dunia, IT sama network. Saya translator-nya," tuturnya.
Selama masa jabatannya, ia banyak membantu kemajuan perusahaan terutama dalam inovasi teknologi 'billing system'. "Jd saat itu, kita memang investasi cepat . Jadi harus ada yang berubah, saat itu CTO (chief technology officer) bilang oke, cost kita paling mahal apa? kalau di dunia seluler, cost yang paling mahal, alat namanya IN (Intelligent Network). Apa yang bisa kita lakukan di sini, jadi tahun 2002/2003, kita bikin convergence billing," ujarnya.
Menurutnya, inovasi diperlukan untuk efisiensi cost perusahaan. "Jadi kita replace IN-nya dengan general purpose computer, karena kalau pakai komputer lebih murah. Kita yang pertama kali meluncurkan convergence billing, convergence antara postpaid dan pre-paid sama, bergabung dan kemudian melakukan perhitungan untuk charging," terangnya.
"Kalau di operator seluler lainnya, biasanya charging billing ada dua, satu buat postpaid, satu buat prepaid. Prepaid pakai IN, postpaid pakai IT. Nah kita (XL) 2002-2003 sudah gabung (konvergensi teknologi tersebut)," tuturnya.