PRIA bertubuh tidak terlalu tinggi itu begitu bersemangat memasuki ruang tamu di kantor Kementerian Ristek saat menemui tim tekno.okezone.com. Mengenakan safari berwarna abu-abu dengan senyum yang lepas dari bibirnya, sepertinya sudah siap menjawab pertanyaan tim Okezone.
Waktu itu jam dinding di ruangan menunjukkan pukul dua siang lebih sepuluh menit. Lima anak buah menteri ikut di dalamnya, mendampingi.
“Bagaimana kabarnya, hayo silahkan duduk,” sapa sang menteri sambil menyalami satu persatu tim Okezone, dengan membawa map berwarna biru di tangan kirinya, yang isinya beberapa lembar kertas. “Itu beberapa point data, bila teman-teman wartawan (Okezone) tanya, nanti bapak tidak kesulitan, cukup membuka map dan membaca saja,” kata sang ajudan menteri.
Suasana siang itu begitu hangat dan cair, si menteri tak canggung langsung ke persoalan mempersilahkan tim untuk mengajukan pertanyaan. Sehingga tak ada waktu untuk berbasa-basi. “Silahkan saja dimulai,” cletuk menteri itu. Mendengar ucapan itu, tim Okezone pun tak ingin mengulur waktu dengan berbasa-basi.
Ya, dialah Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Prof. Dr. Ir. H. Gusti Muhammad Hatta. Menteri yang satu ini memang bukan dari kalangan politisi. Sehingga, tidak mengherankan gaya bicaranya berbeda. Fokus, hati-hati, profesional, dan tidak berbasa-basi.
Meski begitu, menteri kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini mengaku bukanlah orang yang kaku bergaul, tetapi tetap serius saat bekerja. Bahkan, terkadang candaan-candaan keluar dari bibir tipisnya itu, meski dirasa ‘garing’.
Dia pun menunjukkan bagaimana ketika berada di satu meja tidak ada lagi jarak, tidak ada batas dan kesenjangan antara seorang menteri dengan lainnya, itu semua pupus.
Satu hal yang paling nyata tergambar dari sosok menteri santun ini adalah kesederhanaannya. Begitu kira-kira yang dapat dirasakan ketika duduk bersama pria berkacamata yang lebih akrab disapa Gusti.
Kesederhanaannya membuat orang lain yang berhadapan dan berbincang dengannya tak seperti tengah mengobrol dengan seorang menteri Republik Indonesia, tapi menjadikan setara antar sesama, sebagai manusia.
“Mungkin pengaruh lingkungan ya, ibu saya selalu mengajarkan kesederhanaan saja dalam hidup. Nggak usah sombong-sombong, tidak usah neko-neko, yang lurus-lurus saja,” jelas pria kelahiran 1 September 1952 ini.
Bukan hanya kesederhanaan. Gusti pun selalu mengingat dikala sang ibunda mengingatkan betaba ibunya pernah menanamkan filosofi mengenai hidup yang bermanfaat bagi orang lain.
“Ibu saya itu bilang, kalau kamu berada di suatu tempat, upayakan agar keberadaan kamu itu dirasakan manfaatnya bagi orang sekeliling,” kata-kata itu keluar tanpa terbata-bata, pertanda ia masih mengingat dengan sangat apa yang dipesankan oleh ibunya berpuluh tahun silam.
Tapi itulah, Gusti siapapun pemberi nasihat baginya itu adalah baik. Bahkan ketika sang kakak mewanti-wanti dan memberikan nasihat pun ia dengar baik-baik.
Semasa kecil, kakaknya pernah berpesan, seorang itu harus punya sikap di saat ujian. Jangan mencontek dan jangan memberi contekan.
Tapi di mata Gusti prinsip itu di modifikasi sedikit, “Kalau saya, saya ubah itu. Jangan mencontek, tapi kalau orang lain meminta contekan saya kasih,” dan kemudian ia tertawa mengingat masa lalunya.
Cinta Lingkungan Sejak Kecil
Dalam perbicangan santainya dengan tim Okezone, ia menceritakan kecintaannya terhadap lingkungan yang membuat anak ke enam dari tujuh bersaudara ini memilih jurusan ilmu pasti (IPA) sewaktu SMA.
Kecintaannya itu tidak terlepas dari pengalaman masa kecil Gusti yang lebih banyak menghabiskan waktu berpetualang, bermain bersama teman masuk keluar hutan Kalimantan. Bahkan, Gusti pun tak lepas dari kehidupan di tepi laut. Hal itu juga yang membuat Gusti begitu mencitai masakan laut.
Gusti yang terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, dari ibu yang seorang guru dan ayah karyawan swasta ini, memiliki kebiasaan gemar bermain dengan ular sawah, semasa kecil dulu.
Bahkan, suami dari Ir.Violet yang merupakan perempuan asal Sampit ini berkisah bagaimana menjalani serunya masa kecil dulu di Martapura. Ia pun tak sungkan bercerita, ketika kecil senang bermain air, terjun bebas di sungai, menyelam melewati batang-batang kayu bersama teman-teman sebayanya. “Saling buka baju, dan saling menunjukkan kebolehan kuat-kuatan menahan napas dalam air,” tuturnya tertawa.
Dalam hal pelajaran, Gusti ingat betul bagaimana ibunda memberikan pelajaran mengenai kearifan alam, yang kian waktu semakin tergerus oleh ulah dan tangan manusia itu sendiri. Bahkan, karena kesederhanaan dan berkat kecintaannya terhadap lingkungan, dosen Universitas Lambung Mangkurat ini, diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Menteri Lingkungan Hidup di masa Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I. Bahkan, ketika SBY kembali menjabat sebagai presiden untuk kedua kalinya, Gusti dipercaya sebagai Menristek hingga saat ini.
Tercatat Gusti Muhammad Hatta pernah menuntut ilmu di SRN Beringin 1960-1966, SMPN III 1967-1969 dan SMAN III 1970-1972, Banjarmasin.
Di kota kelahirannya itu, Gusti juga memperoleh gelar Sarjana Kehutanan (Ir/Silvikultur) 1979, Fakultas Kehutanan UNLAM, Banjarmasin yang berafiliasi dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. (bersambung)
(Amril Amarullah (Okezone))