BEIJING - Pemerintah China berupaya keras mencari terobosan untuk memecahkan problem kemacetan di Beijing. Salah satu program yang sedang digagas adalah bus tiga dimensi yang dikenal dengan nama '3D Express Coach'.
Pemerintah Negeri Tirai Bambu meyakini, moda transportasi yang berbentuk mengangkang ini bisa menjadi solusi kemacetan. Proyek yang tengah dikaji serius ini juga dianggap mampu mengurangi polusi karena ramah lingkungan. Bus tersebut memanfaatkan kombinasi energi listrik dan matahari. Seperti diketahui, China merupakan negara yang menghasilkan gas rumah kaca terbesar dan konsumen energi terbesar di dunia. Bus ini juga tergolong efektif dan efisien karena tidak perlu menggeser bangunan serta memperlebar jalan.
Konsep bus ini pertama kali diperkenalkan ke publik pada Beijing International Hightech Expo Mei lalu. Adalah perusahaan Shenzen Huashi Future Parking Equipment yang tengah mengembangkan konsep bus unik ini. Dengan bentuknya yang mengangkang, kendaraan yang memiliki ketinggian kurang dari 2 meter bisa melintas di bawahnya. Hal ini memungkinkan karena tinggi bus tersebut mencapai 4,5 meter. Dengan demikian, 'bus mengangkang' tidak memakan jalan lain yang diperuntukkan bagi kendaraan lain.
Dalam situs China Hush, bus ini memiliki lebar enam meter dan mampu menampung jumlah penumpang hingga 1.400 orang. Kecepatan bus juga tak kalah dengan bus pada umumnya, yakni 60 km per jam. Rencananya, bus senilai USD73 juta ini bakal dioperasionalkan kali pertama di Beijing, tepatnya di distrik Mentougou. Jarak pertama yang ditempuh adalah 184 km. Shenzen Huashi optimistis 'bus mengangkang' akan mampu mengurangi 30 persen kemacetan di Beijing.
Perusahaan tersebut juga mengklaim pembangunan jalan bus yang dikembangkannya sangat murah dan efisien karena hanya membutuhkan biaya 10 persen dari pembangunan sistem kereta bawah tanah dan relatif lebih cepat karena hanya butuh waktu setahun atau satu pertiga waktu yang diperlukan untuk membangun jalur kereta bawah tanah. Pengoperasionalan 'bus mengangkang' juga mudah karena dapat dijalankan secara otomatis. Bus tersebut hanya mengikuti jalur putih saja.
Opsi lainnya, bus akan dilengkapi dengan gelombang ultrasonik. Dengan demikian, bus tersebut mampu mendeteksi jika sopir tidak mengendarainya dengan baik. Bukan cuma itu, bus dapat dilengkapi dengan sinar laser yang mampu mendeteksi kemacetan. Nantinya, jika kemacetan terdeteksi maka alarm di bus akan menyala. Memang perangkat teknologi canggih yang melengkapi 'bus mengangkang' akan menjamin keselamatan penumpangnya.
Jika 'bus mengangkang' ini berhasil direalisasikan maka Negeri Panda bakal menjadi pelopor pertama munculnya bus mengangkang di dunia. Bisa diprediksi bahwa Beijing akan memimpin dunia untuk menerapkan mode transportasi baru yang dapat membebaskan kota metropolitan dari kemacetan lalu lintas. Untuk diketahui, berdasar studi IBM Commuter Pain Study, ibu kota China tersebut merupakan kota yang mengalami problem kemacetan paling serius selain Kota Meksiko.
Survei itu mendata penilaian 8.192 pengguna kendaraan bermotor di 20 kota di penjuru dunia.Kota lain yang mengalami problem sama adalah Johannesburg di Afrika Selatan, Moskow di Rusia,dan New Delhi di India. Menurut kesimpulan IBM,para responden rata-rata menyalahkan gagalnya pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang memadai saat aktivitas ekonomi global terus berkembang.
"Berbagai solusi harus dikerahkan bersamasama untuk mencegah gagalnya jaringan transportasi," kata Naveem Lamba dari IBM.
China sendiri sebenarnya telah melakukan sejumlah inovasi,salah satunya meningkatkan infrastruktur dan sistem transportasi modern. Bahkan, China telah meluncurkan kereta yang diakui sebagai kereta api tercepat di dunia tahun lalu.Menurut kantor berita Xinhua, proyek ini dimulai pada tahun 2005 sebagai bagian dari rencana untuk memperluas jaringan kereta berkecepatan tinggi yang ditujukan untuk menghubungkan Guangzhou, sebagai pusat bisnis di China selatan dekat Hong Kong dengan Beijing.
(Sarie )