Terlepas dari memeluk pohon, Qishishiqi mengatakan bahwa dia kerap merasa malu saat memeluk manusia lain, karena takut mereka tidak bisa menahan energi negatifnya. Namun, pohon menurutnya sangat berbeda, karena dinilai akan mendengarkannya dengan diam dan sabar.
Sementara itu, Qishishiqi juga memperjelas, bahwa dia tak menyarankan untuk mengganti terapi medis yang sebenarnya dengan memeluk pohon. Tapi, para pendukung pengobatan tradisional China, mengklaim bahwa memeluk pohon bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.
Mengenai manfaat pelukan sendiri, psikolog klinis bernama Stone Kraushaar mengklaim, bahwa orang yang berpelukan selama 21 detik bisa mendapat manfaat dari peningkatan pelepasan oksitosin. Tapi, dia tidak yakin hal itu berlaku untuk memeluk pohon.
(Martin Bagya Kertiyasa)