PAUS pembunuh atau yang dikenal sebagai Orca memang menjadi mamalia laut paling pintar, dengan kapasitas otak terbesar setelah paus sperma. Tidak heran, jika prilaku mereka terkadang sulit diperkirakan karena tidak hanya bergerak dengan insting, namun juga karena berpikir.
Meskipun memiliki title pembunuh, tapi serangan Orca pada manusia sangatlah jarang. Meski demikian, beberapa waktu lalu terjadi serangan orca pada tiga kapal di lepas pantai Iberia Eropa. Bahkan, para ahli percaya bahwa Orca tersebut mengajak Orca lainnya untuk ikut menenggelamkan kapal.
Tiga orca (Orcinus orca), juga dikenal sebagai paus pembunuh, menabrak kapal pesiar pada malam tanggal 4 Mei di Selat Gibraltar, lepas pantai Spanyol, dan menyerang baling-baling (Kemudi). "Ada dua orca yang lebih kecil dan satu orca yang lebih besar," kata kapten Werner Schaufelberger seperti dilansir dari Livescience.
"Yang kecil mengguncang kemudi di belakang sementara yang besar berulang kali mundur dan menabrak kapal dengan kekuatan penuh dari samping," jelas dia.
Schaufelberger mengatakan dia melihat orca yang lebih kecil meniru yang lebih besar. "Dua orca kecil mengamati teknik Orca yang lebih besar dan, dengan sedikit kecepatan, mereka juga menabrak perahu," katanya.
Dua hari sebelumnya, ada enam orca menyerang perahu layar lain yang berlayar di selat. Greg Blackburn, yang berada di atas kapal, menyaksikan induk orca muncul untuk mengajari anaknya cara untuk menyerang kemudi. "Itu pasti semacam pendidikan, pengajaran sedang berlangsung," kata Blackburn kepada 9news.
Laporan serangan orca di lepas pantai Iberia pun sudah terjadi sejak Mei 2020 dan menjadi lebih sering, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Juni 2022 di jurnal Marine Mammal Science. Awalnya, penyerangan diarahkan ke kapal layar dan mengikuti pola yang jelas, dengan orca mendekat buritan untuk menyerang kemudi, mereka lalu pergi setelah kapal berhenti.
"Laporan interaksi terus berlanjut sejak 2020 di tempat-tempat di mana orca ditemukan, baik di Galicia atau di Selat," kata rekan penulis Alfredo López Fernandez, seorang ahli biologi di Universitas Aveiro di Portugal dan perwakilan dari Grupo de Trabajo.
López Fernandez mengatakan, sebagian besar serangan memang tidak berbahaya. “Dalam lebih dari 500 peristiwa interaksi yang tercatat sejak tahun 2020 terdapat tiga kapal yang tenggelam. Kami memperkirakan paus pembunuh hanya menyentuh satu kapal dari setiap seratus yang berlayar melalui suatu lokasi,” kata dia dalam sebuah email.
López Fernandez menambahkan, agresi terhadap kapal ini adalah fenomena baru. Para peneliti berpikir bahwa peristiwa traumatis mungkin telah memicu perubahan perilaku satu orca, dan telah mengajakarkan ke populasi lainnya untuk ditiru.