Kapal-kapal yang melewati daerah itu di masa lalu akan lebih rentan terhadap perubahan cuaca yang tiba-tiba dan ekstrem daripada kapal-kapal hari ini, yang memiliki akses ke prakiraan yang lebih akurat dan teknologi lebih canggih, ungkap salah satu pejabat NOAA dalam sebuah pernyataan.
Badai petir singkat namun dahsyat yang disebut sebagai badai meso-meteorologis, yang juga dapat muncul di laut tanpa peringatan, juga dapat berperan dalam mengganggu sistem komunikasi kapal dan menimbulkan gelombang besar.
Kehadiran banyak pulau yang menghiasi Laut Karibia menciptakan hamparan perairan dangkal yang juga dapat menimbulkan masalah bagi kapal-kapal besar, tambah NOAA.
Dan jika terjadi kecelakaan, ikan hiu dan barakuda akan memangsa korban, sehingga membuat jasad hilang di dalam air. Sementara itu, Arus Teluk yang mengalir deras akan dengan cepat memusnahkan bukti puing-puing dari lokasi tabrakan atau ledakan.
"Lautan selalu menjadi tempat misterius bagi manusia, dan ketika cuaca buruk atau navigasi yang buruk terlibat, itu bisa menjadi tempat yang sangat mematikan," kata pejabat NOAA dalam sebuah pernyataan.
"Tidak ada bukti bahwa kehilangan misterius terjadi dengan frekuensi yang lebih besar di Segitiga Bermuda daripada di wilayah lautan besar lainnya," lanjutnya.
Namun, mitos tentang "kekuatan" Segitiga terbukti sangat melekat dan terus membayangi imajinasi publik. Beberapa mitos bahkan telah mengakar baru-baru ini, berdasarkan penemuan geologi baru.
Pada Maret 2015, penelitian merinci kumpulan kawah di Laut Barents di lepas pantai Norwegia. Penulis penelitian menyarankan bahwa kawah ini mungkin disebabkan oleh ledakan zat metana kuno yang dilepaskan setelah akhir zaman es terakhir, 11.700 tahun yang lalu.
"Ledakan" ini terjadi ketika pemanasan suhu lautan menyebabkan tekanan menumpuk dan metana dilepaskan dari gas hidrat, zat padat seperti es yang dibentuk oleh gas yang digabungkan dengan air beku.
Beberapa liputan media dari penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan dengan Segitiga Bermuda, yang mengusulkan bahwa ledakan metana yang tiba-tiba dan keras dapat menciptakan lubang runtuhan atau membentuk gelembung gas yang dengan cepat akan melumpuhkan dan menenggelamkan kapal.
(DRA)
(Andera Wiyakintra)