Mengapa di Daerah Segitiga Bermuda Banyak Pesawat dan Kapal Tenggelam dan Hilang?

Tangguh Yudha, Jurnalis
Senin 13 Februari 2023 12:55 WIB
Mengapa di Daerah Segitiga Bermuda Banyak Pesawat dan Kapal Tenggelam dan Hilang?
Share :

Hingga saat ini, misteri selalu menyelimuti daerah Segitiga Bermuda sejak lama. Hamparan Samudra Atlantik yang ditriangulasi antara Puerto Riko, Florida, dan Bermuda itu telah dicap sebagai daerah mengerikan di mana banyak pesawat dan kapal yang tenggelam hingga hilang di sana.

Segitiga Bermuda telah dikaitkan dengan sejumlah peristiwa misterius sejak tahun 1945, ketika satu skuadron yang terdiri dari lima pesawat Angkatan Laut AS dalam misi pelatihan tiba-tiba menghilang. Lantas mengapa di daerah Segitiga Bermuda banyak pesawat dan kapal yang tenggelam? Berikut penjelasannya.

Catatan yang disimpan oleh Aviation Safety Network dan U.S. Coast Guard (USCG) menunjukkan bahwa banyaknya pesawat dan juga kapal yang hilang di Segitiga Bermuda dapat dikaitkan dengan aktivitas badai di area tersebut.

Di situs web USCG, dengan jelas ditegaskan bahwa tidak ada penyebab apapun yang berkaitan dengan mitos, entah itu karena hantu, monster, alien, dan sebagainya. Dengan kata lain, rentetan peristiwa hilangnya pesawat dan kapal di Segitiga Bermuda itu murni karena kesalahan manusia itu sendiri.

BACA JUGA:Mengenal Teori Konspirasi Bumi Berongga, Benarkah ada Alam Lain di Pusat Bumi? 

Segitiga Bermuda sebenarnya tidak semisterius itu, hanya saja memang menurut Howard L. Rosenberg, veteran Angkatan Laut AS yang banyak menulis tentang Segitiga Bermuda, daerah tersebut memiliki lalu lintas yang padat.

"Daerah segitiga itu kebetulan menjadi salah satu daerah yang paling banyak dilalui di dunia, dan semakin banyak jumlah kapal atau pesawat, semakin besar kemungkinan sesuatu akan terjadi pada beberapa orang," tulis Rosenberg, dikutip dari Live Science.

Badai tropis dan angin topan juga sering terjadi di wilayah Atlantik ini, yang dapat menjelaskan banyak orang hilang yang dilaporkan terjadi selama bertahun-tahun di Segitiga Bermuda, menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Kapal-kapal yang melewati daerah itu di masa lalu akan lebih rentan terhadap perubahan cuaca yang tiba-tiba dan ekstrem daripada kapal-kapal hari ini, yang memiliki akses ke prakiraan yang lebih akurat dan teknologi lebih canggih, ungkap salah satu pejabat NOAA dalam sebuah pernyataan.

Badai petir singkat namun dahsyat yang disebut sebagai badai meso-meteorologis, yang juga dapat muncul di laut tanpa peringatan, juga dapat berperan dalam mengganggu sistem komunikasi kapal dan menimbulkan gelombang besar.

Kehadiran banyak pulau yang menghiasi Laut Karibia menciptakan hamparan perairan dangkal yang juga dapat menimbulkan masalah bagi kapal-kapal besar, tambah NOAA.

Dan jika terjadi kecelakaan, ikan hiu dan barakuda akan memangsa korban, sehingga membuat jasad hilang di dalam air. Sementara itu, Arus Teluk yang mengalir deras akan dengan cepat memusnahkan bukti puing-puing dari lokasi tabrakan atau ledakan.

"Lautan selalu menjadi tempat misterius bagi manusia, dan ketika cuaca buruk atau navigasi yang buruk terlibat, itu bisa menjadi tempat yang sangat mematikan," kata pejabat NOAA dalam sebuah pernyataan.

"Tidak ada bukti bahwa kehilangan misterius terjadi dengan frekuensi yang lebih besar di Segitiga Bermuda daripada di wilayah lautan besar lainnya," lanjutnya.

Namun, mitos tentang "kekuatan" Segitiga terbukti sangat melekat dan terus membayangi imajinasi publik. Beberapa mitos bahkan telah mengakar baru-baru ini, berdasarkan penemuan geologi baru.

Pada Maret 2015, penelitian merinci kumpulan kawah di Laut Barents di lepas pantai Norwegia. Penulis penelitian menyarankan bahwa kawah ini mungkin disebabkan oleh ledakan zat metana kuno yang dilepaskan setelah akhir zaman es terakhir, 11.700 tahun yang lalu.

"Ledakan" ini terjadi ketika pemanasan suhu lautan menyebabkan tekanan menumpuk dan metana dilepaskan dari gas hidrat, zat padat seperti es yang dibentuk oleh gas yang digabungkan dengan air beku.

Beberapa liputan media dari penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan dengan Segitiga Bermuda, yang mengusulkan bahwa ledakan metana yang tiba-tiba dan keras dapat menciptakan lubang runtuhan atau membentuk gelembung gas yang dengan cepat akan melumpuhkan dan menenggelamkan kapal.

(DRA)

(Andera Wiyakintra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya