"Kriteria kedua lebih lugas dan terutama berkaitan dengan kedalaman kantong perusahaan alias seberapa kaya perusahaan tersebut dan seberapa kurang pertahanan siber bisnis mereka," kata Smalakys.
Dari kriteria tersebut, tidak heran muncul asumsi bahwa perusahaan yang kaya raya akan sangat rentan menjadi target serangan ransomware. Tetapi, fakta di lapangan tidak semulus asumsi publik.
Buktinya, bisnis kecil di Inggris tetap menjadi incaran serangan ransomware. Bisnis kecil di Inggris yang jadi target rata-rata hanya punya karyawan antara 11 hingga 200 orang saja.
"Itu terjadi karena perusahaan kecil cenderung kurang memprioritaskan keamanan siber daripada yang lebih besar, makanya mereka jadi target serangan," sambung Smalakys.
Lebih lanjut, menurut penelitian yang dirilis pada Agustus 2022 oleh perusahaan remediasi ransomware, Coveware, lebih sedikit bisnis yang membayar uang tebusan pada kuartal kedua 2022.
Hal ini, akibat meningkatnya tekanan dan kebijakan yang diberlakukan oleh organisasi penegak hukum dan perusahaan keamanan siber.
Sementara itu, pembayaran tebusan rata-rata di Q2 2022 adalah USD228.125 yang mana itu naik 8% quarter-on-quarter, nyatanya pembayaran tebusan rerata turun 51% menjadi USD36.360.
Coveware menyarankan, agar para korban tidak membayar uang tebusan sebagai imbalan atas apa yang telah dilakukan penyerang. Pesan ini, senada dengan apa yang disampaikan Menteri Energi AS Jennifer Granholm.
"Kami sampaikan bahwa membayar tebusan ransomware hanya memperburuk dan mempercepat masalah. Itu sama saja Anda mendukung aktor jahatnya," ungkapnya.
(Ahmad Muhajir)