Mengenal Chemtrails, Jejak Asap Pesawat yang Dikaitkan dengan Omicron, Benarkah Demikian?

Ahmad Muhajir, Jurnalis
Jum'at 18 Februari 2022 13:11 WIB
Mengenal Chemtrails, jejak asap pesawat yang dikatikan dengan Omicron (Foto: Facebook/Cirrus Pilot)
Share :

JAKARTA - Mengenal Chemtrails atau jejak asap pesawat kini diperlukan, sebab beredar informasi yang mengaitkannya dengan wabah Omicron, benarkah demikian?

Dikutip dari keterangan resminya, Jumat (18/2/2022), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, isu chemtrails menyebabkan wabah Omicron adalah teori konspirasi yang bikin kepanikan publik.

Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Urip Haryoko menjelaskan, chemtrails merupakan gabungan chemistry (kimia) dan trails (jejak) yang dimaknai sebagai penyebaran zat kimia tertentu melalui pesawat terbang.

Urip mengatakan, chemtrails sendiri adalah wujud dari condensation trails (contrails), yakni fenomena yang terjadi di udara akibat emisi dari mesin jet pesawat terbang yang bertemu dengan udara pada temperatur yang sangat rendah.

"Proses pembentukan contrails diinisiasi oleh emisi uap air pada temperatur tinggi dari mesin jet pesawat terbang yang dengan cepat bertemu dengan udara pada temperatur yang sangat rendah," ujar Urip.

Pertemuan ini, berturut-turut dilanjutkan dengan proses kondensasi (perubahan uap air menjadi air) dan proses sublimasi (air menjadi kristal es), mirip dengan pembentukan awan.

Keberadaan contrails di udara bergantung pada kondisi atmosfer seperti penyinaran matahari, perbedaan temperatur, dan wind shear (perubahan instan arah dan kecepatan angin).

Pada kondisi atmosfer yang stabil, contrails dapat bertahan lama, dan menyebar secara lateral.

“Contrails menjadi fenomena yang penting dalam pembahasan mengenai pemanasan global. Hal ini karena keberadaannya di lapisan udara yang tinggi dapat memiliki karakter yang mirip dengan awan cirrus,” papar dia.

Awan cirrus merupakan awan pada lapisan udara tinggi yang dapat memantulkan balik radiasi gelombang panjang kembali ke permukaan bumi.

Akibatnya, temperatur di permukaan bumi dapat menjadi lebih panas dari kondisi normalnya.

Urip mengutarakan, ada dua pendekatan untuk menjawab kesalahan informasi mengenai fenomena contrails dan wabah Omicron. Pertama, proses pembentukan unsur patogen (berbahaya) dari virus SARS-CoV-2 berkurang pada lokasi dengan elevasi tinggi.

“Hal ini, disebabkan karena virus tidak dapat bertahan lama pada lingkungan minim lapisan oksigen. Contrails biasanya nampak pada ketinggian 7.000 meter sampai dengan 13.000 meter dengan lapisan oksigen yang sangat tipis,” terangnya.

Kedua, jika terdapat virus SARS-CoV-2 keberadaan sinar ultraviolet (UV) di udara mematikan virus ini sehingga tidak dapat menyebar secara luas dan sampai ke permukaan.

“Dari uraian ini, dapat disimpulkan bahwa chemtrails dan penyebaran Omicron merupakan informasi yang tidak tepat dan dibuat untuk menciptakan keresahan masyarakat," tegas dia.

(Ahmad Muhajir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya