Dia menyebutnya ‘nanas’ mengingat di atasnya ditempeli sticker buah nanas. Meski tidak memberikan ancaman setegang bom, benda tersebut memiliki kemampuan khusus untuk memata-matai korban.
Alat seharga 200 poundsterling (Rp3,4 juta) itu dapat mengimitasi sinyal Wi-Fi yang digunakan korban dalam hal ini Wi-Fi di hotel tersebut. Tanpa disadari, Tankard sukses menguntit setiap pergerakan Walne di dunia internet, mulai dari saat masuk ke dalam email, media sosial, hingga transaksi menggunakan kartu kredit.
“Saat korban memasukkan nomor dan password kartu kredit, saat itu pula hacker mengetahuinya dan menyimpannya sebelum melakukan aksi kriminal,” kata Tankard. Dalam hitungan menit, Tankard juga mampu mengakses kontak yang terdapat di dalam laptop Wilne, biasanya akan dijadikan korban penipuan.
Berikutnya, Tankard mengeluarkan alat penguat sinyal seukuran bungkus korek api berwarna perak. Gadget seharga 30 poundsterling (Rp500.000) itu dapat membantu hacker untuk meretas dan menguras kartu kredit korban dari jarak relatif jauh, baik dari tempat parkir mobil ataupun di lokasi lain di dalam hotel.
Menurut Tankard, hacker sering beraksi di sekitar hotel karena selain disediakan WiFi gratis juga menjadi tempat lalu-lalang para pebisnis. “Jika hacker berniat menggali sedikit lebih dalam, mereka juga dapat membobol sistem internal hotel, mulai dari reservasi, kunci ruangan, hingga nomor kartu kredit tamu,” katanya.
Baca juga: ICT Watch Desak RUU PDP Dibahas di DPR Tahun Ini
(Ahmad Luthfi)