Tongkat sebagai alat bantu mobilitas bagi penyandang tunanetra menjadi pilihan pertama di Indonesia. Namun, terdapat beberapa hambatan di balik penggunaan tongkat. Misalnya, penyandang tunanetra biasanya kebingungan beraktivitas di tempat baru, apalagi jika terjadi hujan. Oleh sebab itu, penyandang tunanetra tetap membutuhkan pendamping awas, meskipun sudah menggunakan tongkat.
Karena itulah, sekelompok mahasiswa UNY, terdiri dari Nur Milati (Pendidikan Teknik Mekatronika), Wahyuni Amilya (Pendidikan Luar Biasa), dan Raden Budi Santoso (Teknik Elektro) mengembangkan inovasi tongkat pintar untuk memudahkan mobilitas penyandang tunanetra.
Tongkat pintar yang digagas tim mahasiswa UNY tersebut dilengkapi dengan sensor ultrasonik, penyuara telinga (earphone), serta GPS untuk memudahkan penggunanya dalam mengenali lokasi. Kelebihan yang ditawarkan adalah dengan menyamarkan kebisingan hujan sehingga penyandang tunanetra menjadi mandiri dalam melakukan mobilitas dalam keadaan dan kondisi yang lebih luas.