Pasalnya, hujan meteor cenderung paling produktif ketika komet yang disebabkan mereka telah melakukan perjalanan melalui tata surya relatif baru. Itulah yang terjadi tahun ini, awal minggu depan Bumi akan melewati 256.000 km di dalam orbit komet 21P / Giacobini-Zinner hanya beberapa minggu setelah komet melewati wilayah ruang yang sama pada 10 September.
Sebagai informasi, menurut Thomas meteor adalah batuan atau debu antariksa yang memasuki atmosfer bumi dan terbakar pada ketinggian 70-110 km. Pada saat tertentu, bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa komet sehingga debu-debunya memasuki atmosfer bumi dan terbakar dalam jumlah yang banyak.
Saat itulah, lanjut dia pengamat bisa menyaksikan hujan meteor dengan jumlah puluhan sampai ratusan meteor per jam. Jumlah ratusan meteor per jam biasanya disebut badai meteor, pada saat tertentu setelah komet induknya melintas dekat bumi.
Hujan meteor diberi nama sesuai dengan rasi bintang tempat meteor tampak terpancar. Titik itulah, yang disebut radian, adalah titik persinggungan atmosfer bumi dengan gugusan debu komet.
Baca Juga: Mengapa Luar Angkasa Terlihat Sangat Gelap?
(Ahmad Luthfi)