JAKARTA - Para ilmuwan mengatakan terkejut dengan ukuran gelombang tsunami yang menghancurkan Palu dan Donggala, pada 28 September 2018. Gelombang tinggi sekitar 3 meter menerjang setelah gempa 7,5 SR.
"Kami memprediksi itu bisa menyebabkan tsunami, tidak hanya sebesar itu," kata seorang ahli geofisika dan dosen Humboldt State University, Jason Patton.
Dia menambahkan, "Ketika peristiwa seperti ini terjadi, kami lebih mungkin menemukan hal-hal yang belum pernah kami amati sebelumnya".
Dilansir dari laman New York Times, Senin (1/10/2018), gempa berkekuatan 7,5 SR yang melanda pada Jumat sore, berpusat di sepanjang pantai pulau Sulawesi sekitar 50 mil sebelah utara Palu.
Tak lama setelah itu dalam 30 menit tsunami gelombang setinggi 18 kaki menyerang kota tersebut. Akibatnya beberapa bangunan dan kendaraan hancur, serta menewaskan ratusan orang. Menurut ahli, jumlah korban yang tinggi juga dapat mencerminkan kurangnya sistem canggih di Indonesia untuk deteksi dan peringatan tsunami.
Bencana tsunami biasanya terjadi setelah adanya gempa Bumi megathrust. Ini merupakan fenomena ketika bagian besar dari kerak Bumi berubah bentuk, bergerak secara vertikal di sepanjang patahan.