"Aplikasi malware ini hampir mirip dengan aplikasi aslinya, baik dalam koding maupun fungsinya, kecuali untuk muatan berbahayanya. Mulai dari ikon hingga tampilan in-app aplikasi tersebut, versi berbahaya dari aplikasi ini tampak terlihat berfungsi normal, kemungkinan untuk tidak menimbullkan kecurigaan dari korbannya," seperti yang dilaporkan oleh Bitdefender.
Namun, ketika diinstal, spyware itu bisa menyadap panggilan telepon serta mencuri data media yang mengandung identitas penelepon. Saat telepon mengambil gambar, baik dari kamera depan maupun belakang, spyware ini juga dapat mencurinya lalu mengirimkan gambar tersebut ke server yang dikuasai peretas.
Paling mengejutkan, koding komputer Triout "tidak dapat disamarkan", ini berarti Anda bisa membuyka file Android yang dipasangi spyware ini dan melihat bagaimana proses kerja Triout. Hal tersebut menunjukkan bahwa peretas masih menguji coba kinerja spyware ini.
Bitdefender juga mencurigai Triout mungkin bagian dari "jaringan" spyware terbesar yang memungkinkan pelaku kejahatan cyber untuk membajak applikasi Android dan memasukkan konten berbahaya.
Dalang dibalik spyware tersebut belum diketahui, namun Triout ditemukan di Rusia dan Israel. Adapun server yang dikuasai peretas masih aktif hingga sekarang.
(Ahmad Luthfi)