Dengan perkiraan 300 orang meninggal dalam sebulan pada 2004, mereka terkontaminasi akimat meminum air yang telah terdapat wabah antraks. "Ini adalah situasi yang telah kita lihat sebelumnya," ungkap Direktur Taman Margasatwa dan Pengelolaan Margasatwa Namibia, Colgar Sikopo.
Selain infeksi wabah antraks, para ilmuwan baru-baru ini menyelidiki strain hibrida misterius dari pathogen yang terkait dengan kematian simpanse, gorilla, dan gajah. Wabah Strain ini dianggap bertanggungjawab atas kematian hampir 40% hewan di Taman Nasional Tai di Pantai Gading selama masa studi.
Tidak ada bukti bahwa strain secara khusus berada di balik kematian nilon, namun otoritas setempat berharap keterpencilan Taman nasional Bwabwata dapat mencegah wabah menyebar dan membuat satwa liar lainnya mati. Selain satwa liar, sekira 5.500 orang diperkirakan tinggal di taman tersebut.
Pihak berwenang telah memperingatkan penduduk untuk tetap mewaspadai daerah yang terkena dampak wabah, terutama untuk tidak mengonsumsi daging kuda nil. "Apa yang kita lakukan adalah kita mencoba yang terbaik untuk membakar setiap bangkai untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut, tetapi juga untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mendapatkan hewan ini dan mulai memberi makan pada dagingnya,” tambah Sikopo.
(Ahmad Luthfi)