JAKARTA - Dua produsen mobil terbesar asal Korea Selatan, Hyundai dan Kia akan mengadopsi sistem pengisian daya milik Tesla.
Pabrikan mobil tersebut bahkan telah mengumumkan rencananya untuk mengadopsi North American Charging Standard (NACS) yang biasa dikenal sebagai “steker Tesla” untuk kendaraan elektrifikasi masa depannya.
Melansir The Verge, Rabu (11/10/2023), model mobil Hyundai dan Kia yang kompatibel dengan steker Tesla akan mulai rilis pada kuartal keempat 2024. Untuk kuartal pertama 2025, produsen mobil asal Korea Selatan ini juga akan menyediakan adaptor kepada penggunanya sehingga mereka dapat mengakses stasiun Tesla Supercharger.
Sebagai tambahan, saat ini Hyundai Ioniq 5 dan Ioniq 6 hanya dilengkapi dengan port pengisian standar, CCS, dan DC untuk fast charging. Begitupun dengan Kia EV6 DAN EV9.
Kemudian berhembus kabar juga jika Hyundai dan Kia akan melakukan membangun jaringan nasional stasiun pengisian kendaraan elektrifikasi berkecepatan tinggi, bersama dengan
BMW, Mercedes-Benz, Stellantis, dan GM. Rencananya, mereka akan memasang sebanyak 30.000 stasiun pengisi daya kendaraan elektrifikasi berkecepatan tinggi pada 2030.
Perlu diketahui jaringan supercharger Tesla secara luas diakui lebih unggul dibandingkan dengan stasiun pengisian lainnya. Hal ini dikarenakan pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat itu memiliki colokan CCS dan CHAdeMO yang kurang digunakan oleh pengguna mobil elektrifikasi sejauh ini.
Saat ini, Tesla mengungkapkan bahwa pihaknya sudah memiliki 45.000 supercharger yang tersebar di seluruh dunia. Pihaknya juga mengklaim bahwa Tesla supercharger hampir sempurna tanpa adanya kendala serius. Hal ini dapat dibuktikan dengan waktu pengisian rata-rata supercharger tahun lalu sebesar 99,95 persen.
Hingga saat ini, Tesla supercharger hanya dapat digunakan oleh pemilik Tesla. Namun Tesla sudah menawarkan akses ke kendaraan elektrifikasi non-Tesla untuk dapat menggunakannya pada beberapa tahun mendatang.
Alvitho Devano
(Imantoko Kurniadi)