“Telur-telur ini memiliki cangkang luar yang sangat tipis, hanya setebal 100 mikron. Itu setebal rambut manusia," kata Stein. Namun, berdasarkan strukturnya, telur-telur dinosaurus purba ini akan menjadi kaku, seperti porselen, dan bukannya lentur, seperti kulit pisang, sehingga menjadikannya contoh paling awal dari telur yang kita kenal sekarang.
Ketipisan yang dimiliki cangkang dinosaurus itu mungkin menjelaskan mengapa para peneliti mengalami kesulitan menemukan contoh cangkang telur yang lebih awal lagi.
Ketika telur bertemu dengan tanah yang kaya akan asam, telur akan mulai larut secara perlahan. "Tanah tidak memungkinkan lapisan berkapur setipis itu untuk diawetkan," ujar Stein. Gagasan lain adalah bahwa telur dinosaurus purba bercangkang lunak, sehingga tidak terawetkan dengan baik dalam catatan fosil.
Jadi, jawabannya telur muncul lebih dari ayam? Tidak juga, jika kita berbicara tentang telur ayam pertama..
Ayam yang memiliki nama latin Gallus Gallus Domesticus kemungkinan besar berevolusi dari subspesies ayam hutan merah dengan nama latin Gallus Gallus sekitar 50 juta tahun yang lalu.
Manusia yang tinggal di Asia Tenggara pertama kali menjinakkan unggas ini di suatu tempat antara tahun 1650 SM dan 1250 SM, menurut artikel penelitian tahun 2022 yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Pada suatu titik selama proses domestikasi, nenek moyang terakhir ayam modern akan mengeluarkan telur yang mengandung embrio dengan perbedaan genetik yang cukup untuk membuatnya berbeda dari spesies induknya.
Embrio ayam ini akan berkembang di dalam “telur setengah jadi” sebelum menetas. Kemudian, setelah mencapai usia dewasa, ia akan bertelur dan menghasilkan telur ayam yang pertama. Dengan cara ini, ayam bisa dikatakan mendahului telur ayam.
Namun, sejarah evolusi tidaklah mudah; ada bukti bahwa ayam melakukan perkawinan silang dengan subspesies unggas hutan lainnya, bahkan setelah menjadi subspesies yang berbeda secara genetik.
Beberapa dari sifat-sifat ini lebih atau kurang, terlihat pada ras ayam modern tertentu. Terlebih lagi, domestikasi ayam tampaknya telah terjadi secara independen beberapa kali di beberapa bagian India dan Oseania selama beberapa ribu tahun, menurut University of Wisconsin-Madison. Jadi, menentukan ayam mana yang asli bisa menjadi lebih rumit.
Terlepas dari mana yang lebih dulu ada, para ahli biologi dan filsuf sepakat bahwa ayam dan telur memiliki kesamaan yang penting yaitu keduanya enak untuk disantap.
(Andera Wiyakintra)