JAKARTA – Pecinta bus di Indonesia pasti sudah tidak asing dengan klakson telolet. Klakson ini sempat viral karena memiliki suara yang unik dan berbeda dari klakson bus kebanyakan. Tapi, seberapa aman klakson ini untuk digunakan?
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menegaskan, penggunaan klakson tambahan atau biasa dikenal dengan telolet cukup berbahaya.
KNKT menilai, bahaya klakson telolet berasal dari cara kerjanya yang menggunakan system mekanis dan bukan elektrik.
Pelaksana Tugas Kepala Subkomite Moda Investigasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) KNKT Ahmad Wildan menyampaikan, ada banyak temuan kecelakaan maut terjadi karena rem blong yang karena klakson telolet.

“Klakson yang dibuat oleh ATPM itu kan jenisnya elektrik. Kemudian karena merasa kurang kenceng, temen-temen (sopir truk) menggunakan klakson tambahan yang memakai tenaga mekanis, itu suaranya jadi lebih kenceng,” kata Wildan seperti dikutip dalam kanal YouTube Djodi Why.
Wildan menjelaskan, bahwa klakson telolet yang menggunakan tenaga angin yang berasal dari tabung angin pengereman untuk mengeluarkan bunyi nyaring. Ini sering terjadi kebocoran karena perekatan yang tidak sempurna.
“Masalah saat ini adalah selang dan ikatan dari tabung angin menuju ke klakson dan pengereman yang digunakan itu kadang tidak bagus. Kasus terbaru itu saya temukan juga pada kecelakaan maut di Cibubur yang menewaskan 11 orang. Saya pastikan mobil itu pengeremannya blong setelah melakukan pengetesan rem usai kejadian,” ujarnya.