Dalam pembelaannya, TikTok mengatakan di Twitter bahwa rumor tersebut tidaklah benar dan menyesatkan.
Aplikasi asal China itu, mengaku tidak pernah mengumpulkan keystroke atau input teks melalui metode ini.
TikTok mengklaim, mereka hanya digunakan untuk debugging, pemecahan masalah, dan pemantauan kinerja.
Laporan terpisah juga menyampaikan, browser dalam aplikasinya juga cukup berbahaya, sebab perusahaan dapat melacak setiap penekanan tombol di situs web pihak ketiga melalui browser ini.
Komisaris FCC Brendan Carr mengatakan, aplikasi ini adalah alat pengawasan canggih yang mengumpulkan sejumlah besar data pribadi dan sensitif.
(Ahmad Muhajir)