Penelitian lebih lanjut tentang respons hamster terhadap Avpr1a menunjukkan bagaimana ia mengatur agresi pada hewan pengerat.
Pada tahun 2007, tes lain dilakukan peneliti dalam menghapus gen Avpr1a pada tikus jantan. Mereka berharap untuk melihat penurunan agresif karena kurangnya sinyal AVP.
Namun, tikus tidak menunjukkan perbedaan tingkat agresif dibandingkan tikus normal. Sekarang, para peneliti telah menguji ide yang sama dengan menciptakan hamster yang disunting gen.
Para peneliti menggunakan CRISPR-Cas9 untuk menghilangkan gen reseptor Avpr1a pada hamster jantan dan betina. Seperti halnya tikus, mereka mengharapkannya untuk mengurangi tingkat agresif secara keseluruhan.
Kendati demikian, hipotesis itu tidak benar. Sebaliknya, hamster betina dan hamster jantan yang disunting gen keduanya menjadi lebih agresif. Mereka bahkan sampai menyerang hamster lain yang berjenis kelamin sama.
Bagi para peneliti, kasus ini sungguh membingungkan, terutama hampir empat dekade penelitian tentang bagaimana Avpr1a memengaruhi hewan-hewan ini.
(Ahmad Muhajir)