Energi panas yang dipancarkan matahari dapat membuat air laut mengalami penguapan. Uap air itu lalu naik ke atmosfer dan membentuk awan kemudian pada ketinggian tertentu akan mencapai suhu yang sangat dingin.
Awan cumulonimbus terbentuk dari awan-awan kecil yang berkumpul dan berubah menjadi tumpukan awan yang tebal karena hembusan angin. Tumpukan awan tersebut berisi air, es dan muatan listrik berupa petir.
Lantaran suhu yang dingin, butiran es cumulonimbus tidak mencair secara sempurna. Butiran es ini jatuh ke permukaan bumi hingga kemudian disebut sebagai hujan es.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam akun Twitternya memaparkan, fenomena hujan es lebih sering terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba pada siang atau sore hari.
BMKG menyebut hujan es bersifat sangat lokal dengan luasan berkisar 5-10 kilometer dan durasinya singkat, yakni sekitar kurang dari 10 menit saja.
(Ahmad Muhajir)