Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Penipuan Kencan Online Banyak Sasar Generasi Z, Kerugian hingga Rp142 Juta

Antara , Jurnalis-Rabu, 09 Februari 2022 |14:44 WIB
Penipuan Kencan Online Banyak Sasar Generasi Z, Kerugian hingga Rp142 Juta
Penipuan kencan online banyak sasar generasi Z (Foto: Lauvette)
A
A
A

JAKARTA - Perusahaan keamanan siber, Kaspersky, merilis laporan perihal penipuan online yang bersumber dari aplikasi kencan online. Terungkap, orang-orang Asia Tenggara menjadi korban terbanyak.

Disadur dari keterangan resminya, temuan ini berdasarkan hasil survei Kaspersky yang bertajuk "Mapping a secure path for the future of digital payemnts in APAC".

Kaspersky mengungkapkan, hampir 1 dari 2 orang (45%) di Asia Tenggara telah kehilangan uang karena penipuan, di mana pelakunya mereka kenal dari aplikasi kencan online.

Jumlah kerugian yang diderita, kurang dari Rp1,4 juta. Penipuan yang disebut kecil-kecilan ini, dialami oleh berbagai kelompok usia.

Generasi baby boomer (kelahiran 1946-1964) dan di atasnya (1918-1945) paling sering menjadi korban penipuan kecil-kecilan ini, mencapai 33%.

Rata-rata penduduk Asia Tenggara yang pernah menjadi korban penipuan kurang dari Rp1,4 juta berjumlah 22%.

Kemudian, hampir 2 dari 5 orang di kelompok usia paling senior pernah kehilangan antara Rp71,5 juta sampai Rp142 juta karena ditipu teman kencan online.

Sementara, sebagian kecil generasi Z (8%) pernah tertipu lebih dari Rp142 juta karena kencan online.

Perusahaan keamanan siber ini melihat penipuan kencan online meningkat sejak 2020, ketika pandemi COVID-19 mewajibkan hampir semua kegiatan menggunakan internet termasuk untuk bersosialisasi.

Peneliti di Kaspersky menemukan ciri-ciri yang ditemui pada pelaku kencan online, antara lain menunjukkan emosi yang kuat dalam waktu singkat dan cepat sekali beralih dari aplikasi kencan ke saluran pribadi.

Mereka ingin tahu banyak tentang korban karena semakin banyak mereka tahu, semakin mudah memanipulasi korban.

Penipu kencan online sering memberikan cerita yang tidak konsisten dan seringkali tidak memiliki jejak digital. Ketika meminta uang, mereka menggunakan kesulitan pribadi, misalnya keluarga sakit atau bisnis gagal.

(Ahmad Muhajir)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement