JAKARTA - Penyelenggaraan program inkubasi Startup Studio Indonesia (SSI) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI memasuki batch ketiga. Sesi ini semakin berfokus dalam memberikan nilai tambah bagi 15 startup early-stage yang terpilih menjadi finalis.
Sebagai bagian dari rangkaian pelatihan SSI, para founders startups ini mengikuti sesi 1-on-1 Coaching, dimana mereka dibina dan dilatih langsung oleh para veteran startup Indonesia, seperti Grady Laksmono, Co-founder Moka dan Head of Selly di GoTo Financial; Phil Opamuratawongse, Co-founder Shipper; serta Fajar Budiprasetyo, Co-founder dan CTO HappyFresh.
Fokus dan tema utama dalam batch ini adalah mencari Product-Market Fit (PMF), yaitu berbagai upaya penyempurnaan produk dan model bisnis dalam peningkatan kecocokan atau loyalitas/retensi pengguna terhadap produk, sebelum startup masuk tahap ekspansi pasar.
Baca Juga: Kominfo: Kunci Sukses Startup Studio Indonesia Terletak di Tim Coach
Riset yang dilakukan oleh CB Insights, tidak adanya kebutuhan pasar menjadi penyebab terbesar dari kegagalan sebuah startup (42%). Artinya, startup telah menawarkan produk digital, namun frekuensi serta jumlah penggunanya tidak cukup besar untuk membuat perusahaan bisa bertahan dan berkembang.
Dengan adanya pandemi yang memberikan dampak negatif pada sebagian besar startup di Indonesia (42,5%), maka semakin penting bagi startup tahap awal untuk mempelajari cara terbaik menemukan PMF agar bisa bertahan.
Jika tidak berhasil melalui proses PMF, maka bisa dipastikan bahwa startup tersebut akan gagal atau menjadi startup “zombie” (sebutan untuk perusahaan-perusahaan rintisan yang masih bertahan, namun tidak memiliki pertumbuhan bisnis).
Baca Juga: Kominfo Umumkan 15 Startup Terpilih Program SSI Batch 3
Oleh karena itu, SSI merangkum lima tips penting untuk mencari PMF dari 3 startup veteran Indonesia:
1. Uji Coba Pasar
Salah satu kesalahan utama startup adalah menunggu terlalu lama untuk menguji apakah pasar menerima produk mereka dengan baik atau tidak. Jika model bisnis startup adalah dengan basis langganan, maka tawarkan biaya langganan yang ideal kepada para pengguna, dan evaluasi feedback yang mereka berikan untuk menentukan apakah skema tersebut bisa berjalan dengan baik atau tidak.
“Banyak founder startup yang menciptakan problem-problem yang sebenarnya tidak ada atau tidak signifikan di pasaran. Kita harus bisa membedakan antara ‘keyakinan’ dan ‘fakta’. Dan proses ini harus berjalan dengan cepat, apakah benar ada problem tersebut? Berapa orang yang benar-benar membutuhkan solusinya? Jika terlalu lama, kita hanya akan menghabiskan terlalu banyak sumber daya dan waktu untuk hal yang sia-sia,” ungkap Grady Laksmono.
2. LA/B Testing Menghitung Dampak Nyata
Dalam operasional startup, seringkali perusahaan menghadirkan fitur-fitur baru dengan harapan untuk menarik semakin banyak pengguna. Namun, hal ini justru bisa menjadi distraksi dari tawaran utama startup.
Oleh karena itu, Fajar Budiprasetyo menyarankan startup untuk menjalankan A/B testing agar bisa menghitung dampak nyata dari sebuah promo/fitur/kemitraan baru. Ia pun mengaku budaya eksperimen ini telah ia pupuk sejak mengembangkan HappyFresh.
3. Dengarkan Umpan Balik Pengguna
Pemikiran kritis menjadi hal esensial yang harus dimiliki semua founder startup. Untuk bisa mencapai PMF, maka jalan terbaik adalah untuk benar-benar memahami target pengguna, mulai dari kebutuhan, keinginan, hingga harapan mereka. “Semua pengguna ingin mencoba layanan startup agar bisa mempermudah hidup mereka.
Untuk itu, terlebih bagi para startup B2B atau startup yang model bisnisnya rumit dan membutuhkan edukasi lebih, kalau pengguna belum tertarik mencoba, kita yang harus giat ‘jemput bola’ dan mengajak mereka untuk menggunakan sistem kita, jelaskan apa saja kelebihan-kelebihannya,” kata Fajar Budiprasetyo
Fajar juga menekankan bahwa umpan balik dari pengguna menentukan jalan masa depan bagi perusahaan.