JAKARTA- Pandemi virus corona (COVID-19) telah memberikan dampak begitu banyak terhadap kehidupan manusia. Aktivitas manusia berubah total sejak penguncian wilayah dan physical distancing yang diterapkan beberapa negara. Kegiatan belajar hingga bekerja banyak dilakukan di rumah.
Tidak sampaii disitu, pandemi COVID-19 juga telah mempengaruhi ekonomi, industri pariwisata, bisnis global, hingga event olahraga dan teknologi. Namun, tampaknya Bumi mendapatkan dampak sebaliknya. Belakangan ini diketahui polusi udara di beberapa negara menurun selain itu langit juga lebih cerah. Berikut beberapa dampak COVID-19 terhadap Bumi, seperti dikutip dari berbagai sumber.
1. Getaran Seismik Menurun
Bumi telah lebih tenang dari biasanya. Para seismolog mendeteksi adanya penurunan terhadap jumlah getaran seismik di permukaan bumi. Getaran seismik tersebut diciptakan oleh gerakan manusia seperti mengemudi, pekerjaan konstruksi, dan berbagai kegiatan yang membuat tanah bergetar.
Seperti diketahui, untuk mengurangi angka penyebaran COVID-19 masyarakat diimbau untuk bekerja dan belajar dari rumah. Begitu juga dengan kegiatan produksi di pabrik dan banyak lagi. Dengan penurunan getaran seismik, peneliti juga mendapatkan kesempatan langka untuk menangkap data yang sangat akurat.
2. Polusi Udara Menurun
Kebijakan physical distancing ditengah pandemi COVID-19 juga telah menyebabkan penurunan polusi udara secara global. Beberapa aktivitas industri telah terpaksa berhenti, beberapa orang juga tidak menggunakan kendaraan pribadi dan tetap berada dirumah.
Kondisi tersebut diketahui lewat citra satelit Badan Antariksa Eropa (ESA). Menurut ESA, tingkat nitrogen dioksida (NO2) di Asia dan Eropa sangat rendah daripada periode yang sama pada tahun lalu. N dioksida diproduksi dari mesin mobil, pembangkit listrik dan proses industri lainnya
Senyawa tersebut dianggap memperburuk penyakit pernafasan seperti asma. Polutan tersebut berasal dari kegiatan dan sektor industri yang sama yang bertanggung jawab atas sebagian besar emisi karbon dunia dan mendorong pemanasan global.
Salah satu contoh tingkat polusi di kota Wuhan, di China Tengah mulai berkurang selama wabah virus corona di negara tersebut. Wuhan merupakan rumah bagi ratusan pabrik yang memproduksi mobil dan perangkat keras lainnya sebagai rantai pasokan global. Menurut NASA, tingkat nitrogen dioksida di China dan pusat China paling tinggi 10 sampai 30 persen lebih rendah dari biasanya.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga mengungkap ada penurunan partikel halus polutan udara di atas wilayah Indonesia bagian barat selama pandemi COVID-19. Hal tersebut diketahui melalui pemodelan data satelit yang dikeluarkan The Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS).
Dikutip dari situs resmi LAPAN, secara umum ada penurunan partikulat (PM10) pada bulan Maret 2020 dibanding dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.
3. Langit Lebih Cerah
Dampak dari berkurangnya polusi udara di Jakarta tampaknya membuat langit Jakarta lebih cerah belakangan ini. Sebagai salah satu kota dengan kasus penyebaran COVID-19 terbanyak, Jakarta telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 10 April 2020. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus corona. Kegiatan perkantoran dan sekolah dilakukan di rumah sehingga lalu lintas pun mulai sepi.
Langit yang lebih cerah juga terjadi di beberapa negara. Misalnya di India, setelah diberlakukannya lockdown, pemandangan pegunungan Himalaya bisa dilihat dengan mata telanjang dari kawasan India Utara. Jaraknya padalah mencapai 200 kilometer. Kabarnya pemandangan semacam itu dilihat terakhir kali pada 30 tahun yang lalu.
(Amril Amarullah (Okezone))