Sementara itu, belum ada tanggapan dari pihak Honda maupun Nissan terkait aliansi dua perusahaan tersebut. Nissan justru membantah pihaknya akan mengakhiri kerja sama dengan pihak Renault menyusul pelarian mantan pentolan Nissan Carlos Ghosn dari Jepang.

Mio Kato percaya bahwasannya ketika produsen mobil ingin membangun kemitraan yang kuat di tahun-tahun mendatang, industri mobil Jepang dapat dipecah menjadi dua kelompok raksasa. Salah satunya adalah Toyota yang telah memiliki saham di Mazda, Suzuki, dan Subaru. Jika Nissan menolak Renault demi Honda, penjualan tahunan tersebut itu bisa naik yang tadinya hanya di bawah 11 juta unit per tahun menjadi sekitar 12 juta unit per tahun.
“Nissan memang memiliki kemungkinan untuk melunak di depan calon mitra, sementara itu Toyota yang ambisius terus bergerak maju dapat memicu perubahan drastis bagi perusahaan,” ujarnya.
(Mufrod)