“Berawal di sekolah kami itu ada pelajaran TIK dan ekstrakulikuler. Kemudian setiap tahunnya ada perpisahan kelas 6, kami mengadakan adat Sunda menggunakan gamelan. Nah, sekolah kami tidak memiliki gamelan, karena bahan-nya dari perunggu hingga puluhan juta. Jadi waktu kami mau berlatih harus sewa sanggar,” tutur dia kepada Okezone.
Lebih lanjut, Ema mengatakan jika anak-anak muridnya yang juga dibimbing oleg Guru TIK SD Negeri 10 Regol, Dewis Akbar membuat alat dengan kolaborasi IT dan seni tersebut.
“Ada enam orang anak di kelas 6 SD, mereka punya ide berkelompok,” katanya.
Dia menambahkan, “Jadi awalnya ini direkam dari suara gamelan asli, direkam dengan mereka pakai hape. Kemudian suaranya potong-potong disini (menunjuk alat simulator), kemudian ditaruh di aplikasi. Nah kemudian dibuatlah aplikasinya menyerupai bentuk Sharon aslinya.”
Menariknya tidak hanya Sharon, jejeran gamelan sunda lainnya seperti Bonag, Peking, Gong, dan Kempul pun terdapat simulatornya. Untuk informasi, alat ini dibuat pada 2014 dan saat ini masih digunakan untuk pembelajarn dan pementasan seni SDN Regol 10 Garut.
(Ahmad Luthfi)