Alhasil transaksi Google dengan HTC jauh lebih murah dan datang pada waktu yang sangat berbeda, yakni ketika Google dan saingannya lebih berfokus pada perangkat konsumen yang dibangun pada layanan kecerdasan buatan (AI) dan augmented reality (AR).
AR sendiri menuntut kamera dan sensor mahal yang kuat dan bekerja secara berkesinambungan dengan software untuk memproses dan melapisi gambar 3D di dunia nyata. Kepemilikan mitra Android yang berbeda membuat ponsel mereka dengan komponen yang berbeda membuat tugas itu lebih sulit bagi Google. Terutama saat Apple memilih perangkat AR untuk diintegrasikan dengan software-nya.
“Bagi Google, HTC adalah kesepakatan yang sama sekali berbeda dengan Motorola,” kata Jason Low, seorang analis Canalys yang berbasis di Shanghai.
"Perlu kontrol manufaktur yang lebih baik jika mengharapkan rangkaian Pixel bersaing dengan iPhone suatu hari nanti,” ujarnya.
Tidak jelas bagaimana HTC menghadapi persaingan dengan Apple, Samsung, dan Huawei di masa depan setelah ditinggal tim berbakatnya. Namun menurut Canalys Low, sisi baik dari kesepakatan itu adalah HTC bisa fokus pada bisnis VR-nya yang memiliki potensi tinggi di pasaran. Demikian seperti dilansir Bloomberg, Kamis (21/9/2017). (lnm).
(Kemas Irawan Nurrachman)