Sebuah startup dapat berjaya karena kreativitas dan kerja keras para pendiri dan karyawan, hal tersebut yang menjadi kunci sukses perusahaan rintisan berevolusi menjadi perusahaan besar seperti Uber yang berasal dari Amerika dan di Indonesia sendiri memiliki startup yang mengacu pada layanan transportasi yakni Go-Jek.
Kesuksesan mereka tentu tak luput dari pendapatan dan pamor yang menjulang, terlebih jika terdapat investor asing yang mengucurkan dana kepada startup tersebut. Lantas, apa yang mendasari investor asing tertarik untuk menjadi bagian dari startup itu sendiri?
“Investasi didasari Indonesia sebagai negara dengan pasar yang besar, pembeli yang besar, pengguna gadget besar dengan waktu penggunaan yang tinggi dan suka akan inovasi baru. Makanya mereka suka investasi di sini (Indonesia),” ujar Heru.
Namun, bukan berarti campur tangan asing tak akan menyebabkan sesuatu yang besar bagi Indonesia sendiri. Tentunya hal itu memiliki dampak yang akan merugikan bisnis yang ada di Tanah Air sendiri.
“Dampaknya, startup pesaing aplikasi dunia, yang dibeli kemudian dimatikan. Sehingga tak ada aplikasi lokal. Aplikasi lokal yang besar diakuisisi sehingga porsi lokal kecil dan beralih kepemilikan seperti Go-Jek. Di sisi lain merangsang orang membuat startup membesarkan dan menjual pada asing,” terang Heru.