Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gerhana Matahari Bukan Sekedar Fenomena Alam Biasa

krjogja.com , Jurnalis-Senin, 29 Februari 2016 |12:26 WIB
Gerhana Matahari Bukan Sekedar Fenomena Alam Biasa
Gerhana matahari total (foto: Lipi)
A
A
A

YOGYAKARTA - Dalam berbagai literatur studi Islam, Gerhana Matahari Total (GMT) biasa diistilahkan dengan “kusuf”, sedangkan Gerhana Bulan Total (GBT) dikenal dengan “khusuf”. Sedangkan, Al-Biruni dalam Al-Qanun al-Mas’udi menggunakan istilah kusuf untuk keduanya.

Sepanjang penelusuran Guru Besar Ilmu Falak Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Susiknan Azhari, ditemukan hampir semua kitab fikih membahas Gerhana Matahari Total. Hal ini menunjukkan perhatian para ulama sangat besar terhadap peristiwa Gerhana Matahari Total.

"Pada umumnya pembahasan meliputi pelaksanaan salat gerhana beserta tekniknya yang bersumber dari berbagai hadis, diantaranya dari Aisyah dan Ibn Abbas sebagaimana dikutip dalam “Al-Mabsuth” karya Syamsuddin as-Sarkhasy," kata Susiknan Azhari, dikutip dari KRjogja, Senin (29/2/2016), berkaitan GMT.

Susiknan Azhari mengatakan, para ulama berbeda pendapat tentang status salat gerhana. Jumhur ulama berpendapat jika salat gerhana hukumnya sunah muakad, sedangkan Imamiyah berpendapat salat gerhana hukumnya fardlu ‘ain. Meski begitu, adanya perbedaan pandangan perlu kajian mendalam.

Dari banyaknya buku dan artikel yang mengulas tentang Gerhana Matahari Total mengindikasikan, jika persoalan gerhana menjadi objek kajian yang menarik, bukan sekedar fenomena alam biasa, bahkan secara tidak langsung telah terjadi proses integrasi-interkoneksi keilmuan.

Lebih dari itu, kajian terhadap fenomena gerhana diharapkan menyadarkan manusia terhadap kebesaran Sang Maha Pencipta. Peristiwa gerhana juga dapat dijadikan momentum untuk memperbaiki data hisab. Karenanya, peristiwa gerhana Matahari total pada 9 Maret 2016 perlu dikaji mendalam.

Apalagi, GMT tersebut bertepatan dengan tanggal 29 Jumadilawal 1437 H yang sangat langka, serta hanya akan melintasi sejumlah wilayah di Indonesia (Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwak, Ternate, dan Halmahera) tidak boleh terlewatkan begitu saja.

(Amril Amarullah (Okezone))

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement