Di balik menggiurkannya bisnis digital kreatif di Indonesia ini, membangun bisnis startup tidak selamanya mulus-mulus saja. Hambatan pasti ada dan itu menjadi tantangan bagi siapa pun pelakunya. Jatuh dan bangun merupakan hal biasa, dan pastinya sering dialami oleh pelaku startup.
Kaskus, misalnya. Ketika dibangun pada 1999 oleh Andrew Darwis, tidak akan sehebat sekarang ini bila sebelumnya pernah mengalami keterpurukan dalam menjalankan bisnisnya.
Selama perjalanan Kaskus, ternyata tidak semulus yang diperkirakan Chief Executife Officer (CEO) Kaskus, Ken Dean Lawadinata. Kaskus pernah mengalami berbagai kesulitan, bahkan sempat ditipu. Dua minggu kaskus mati total, seluruh data hilang tak berbekas.
Selepas dari keterpurukan, Kaskus bangkit dan berkembang lagi. Data terakhir yang diperoleh Okezone, Juli 2012, situs besutan tiga sahabat: Andrew Darwis, Ronald Stephanus, dan Budi Dharmawan tersebut memperoleh 5,6 juta member. Bahkan pada 2013, kata Ken, Kaskus mencatatkan 20 juta unique user per bulan.
Lain dengan CEO Educa Studio, Andi Taru, yang mengisahkan tantangan yang dihadapi startup saat ini. Baginya, tantangan terberat adalah persaingan global yang semakin terbuka dan tidak ada batasan. Perlu regulasi khusus sehingga "Konten Lokal dapat Menjadi Raja di Negeri Sendiri".
“Saat ini, peran pemerintah menjadi sangat vital. Bagaimana membuat regulasi yang dapat menguntungkan startup lokal daripada developer-developer global yang masuk ke pasar Indonesia,” tuturnya.
Dengan demikian, startup lokal bakal mendapat kesempatan tumbuh dan mendapat hak yang sama dengan perusahaan digital luar negeri yang sudah dahulu memperoleh penghasilan di negeri ini.
(Amril Amarullah (Okezone))