JAKARTA – Penjualan mobil Low Cost Green Car (LCGC) sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan tajam. Namun, di sisi lain, kendaraan listrik justru mencatatkan pertumbuhan signifikan. Hal itu diungkap Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Menurut Menperin, penjualan wholesale LCGC pada 2025 tercatat hanya mencapai 122.686 unit. Angka tersebut turun hingga 30,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kalau kita bicara mengenai segmen mobil murah dan ramah lingkungan atau LCGC, ini juga mengalami tekanan. Penjualan wholesale LCGC pada tahun 2025 hanya mencapai 122.686 unit, turun 30,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Menperin Agus.
Meski demikian, pemerintah menegaskan tetap memberikan perhatian khusus untuk memulihkan pasar LCGC. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah melalui pemberian insentif fiskal yang dinilai lebih efektif.
"Dan pemerintah dalam hal ini tentu akan tetap memberikan perhatian pada pemulihan pasar LCGC melalui pemberian insentif fiskal yang efektif," lanjutnya.
Berbanding terbalik dengan LCGC, penjualan kendaraan elektrifikasi justru menunjukkan kinerja positif. Penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) melonjak tajam dari sekitar 43.000 unit menjadi 103.000 unit sepanjang 2025. Sementara itu, kendaraan hybrid electric vehicle (HEV) juga tumbuh sekitar 15 persen.
"Tren tersebut menunjukkan adanya pergeseran yang cukup signifikan menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan," ucap Menperin Agus.
Menurutnya, perkembangan ini sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam mencapai target net zero emission paling lambat pada 2060. Bahkan, khusus untuk sektor manufaktur, pemerintah menargetkan pencapaian net zero emission lebih cepat, yakni pada 2050.
"Jadi tahun 2050 kami sudah punya roadmap, sudah punya cara-cara dan strategi untuk mewujudkan net zero emission di seluruh sektor manufaktur, sehingga bisa tercapai 10 tahun sebelum net zero emission nasional," jelas Menperin Agus.
JAKARTA – Penjualan mobil Low Cost Green Car (LCGC) sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan tajam. Namun, di sisi lain, kendaraan listrik justru mencatatkan pertumbuhan signifikan. Hal itu diungkap Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Menurut Menperin, penjualan wholesale LCGC pada 2025 tercatat hanya mencapai 122.686 unit. Angka tersebut turun hingga 30,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kalau kita bicara mengenai segmen mobil murah dan ramah lingkungan atau LCGC, ini juga mengalami tekanan. Penjualan wholesale LCGC pada tahun 2025 hanya mencapai 122.686 unit, turun 30,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Menperin Agus.
Meski demikian, pemerintah menegaskan tetap memberikan perhatian khusus untuk memulihkan pasar LCGC. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah melalui pemberian insentif fiskal yang dinilai lebih efektif.
"Dan pemerintah dalam hal ini tentu akan tetap memberikan perhatian pada pemulihan pasar LCGC melalui pemberian insentif fiskal yang efektif," lanjutnya.
Berbanding terbalik dengan LCGC, penjualan kendaraan elektrifikasi justru menunjukkan kinerja positif. Penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) melonjak tajam dari sekitar 43.000 unit menjadi 103.000 unit sepanjang 2025. Sementara itu, kendaraan hybrid electric vehicle (HEV) juga tumbuh sekitar 15 persen.
"Tren tersebut menunjukkan adanya pergeseran yang cukup signifikan menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan," ucap Menperin Agus.
Menurutnya, perkembangan ini sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam mencapai target net zero emission paling lambat pada 2060. Bahkan, khusus untuk sektor manufaktur, pemerintah menargetkan pencapaian net zero emission lebih cepat, yakni pada 2050.
"Jadi tahun 2050 kami sudah punya roadmap, sudah punya cara-cara dan strategi untuk mewujudkan net zero emission di seluruh sektor manufaktur, sehingga bisa tercapai 10 tahun sebelum net zero emission nasional," jelas Menperin Agus.
(Rahman Asmardika)