Dia menyukai ChatGPT karena bisa diakses kapan pun dan di mana pun. Selain itu chatbot juga bisa langsung memberi tanggapan atas pertanyaan, membantunya dalam belajar untuk meninjau informasi.
Meskipun ChatGPT menawarkan aksesibilitas dan fleksibelitas, namun sebagian kecil dari mereka masih tetap memilih tenaga pendidik manusia. Hal ini dikarenakan adanya bagian tertentu yang tidak dapat dilakukan ChatGPT.
Sebagai contoh komunikasi tatap muka, suasana akademik, serta peranan yang interaktif. Namun tren yang berkembang kebanyakan tetap memilih AI sebagai penunjang prestasi akademik.
Para ahli menyarankan agar menggunakan kombinasi keduanya, belajar bersama manusia dan dibantu ChatGPT. Hal ini lantaran tenaga pendidik manusia bisa memberikan manfaat lain seperti mengatur waktu belajar, memberi motivasi, serta mengajarkan praktik.
(Martin Bagya Kertiyasa)