2. Produksi Bus
Mayoritas Sasis di Indonesia berasal dari Jepang atau Eropa. Ada pula yang dari China meski sedikit. Golden Dragon 2010 dan sasis Yutong adalah sasi yang banyak diminati dalam 3 tahun. Bahkan, Golden Dragon sempat terjual 300 unit, sedangkan Yutong sempat memberikan 2 unit bus untuk otobus SAN untuk dioperasikan di jalur Sumatera pada 2011 lalu. Selain itu, ada beberaapa sasis buatan China yakni Zhongtong yang digunakan TransJakarta. Ada pula sasis Dongfeng yang dipakai oleh Sumber Kencono, dan masih banyak lagi.
Sedangkan Indonesia belum dapat membuat mesin atau sasis bus sendiri. Indonesia hanya membuat karoseri yang lebih spesifik ke bodi bus dan interior dalam bus. Dulu, Indonesia pernah membuat mesin bus dengan nama Perkasa Grpoup Texmaco yang pernah digunakan Sumber Alam TNI. Bahkan, pernah juga diekspor di Arab Saudi tapi akhirnya failed dan hilang.
3. Cara Naik Bus
Tiap negara memiliki aturan yang berbeda-beda termasuk di China. China mengharuskan para penumpangnya melakukan pembayaran menggunakan kartu transportasi publik, bank, atau aplikasi lainnya sehingga jarang menggunakan uang tunai. Harga yang paling mahal pun sekitar 2 yuan atau Rp4.500. Hal itu lantaran jarak tempuh yang tak begitu jauh.
Sedangkan Indonesa masih menggunakan pembayaran tunai di agen-agen, namun ada juga yang bisa membeli secara online di beberaa aplikasi. Harga tiket pun masih terbilang mahal tergantung jarak tempuhnya. Selain itu, masih banyak juga calo yang menghampiri saat datang ke terminal. Padahal hal itu sudah dilarang oleh negara.