Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini konsumen di Indonesia masih melihat harga beli dan belum sampai pada cost of ownership atau biaya keseluruhan memiliki kendaraan. Hal ini juga, kata Agus, yang membuat masyarakat masih ragu untuk membeli kendaraan listrik.
“Kalau di Eropa, Amerika, dan China itu cara berpikirnya sudah rasional. Di Indonesia agak beda, belum beli mobil tapi sudah memikirkan harga jual kembali. Kalau membeli mobil listrik bayangan mereka harga jualnya jatuh sekali karena baterainya sangat mahal,” ucapnya.
(Citra Dara Vresti Trisna)