JAKARTA - Sebagian orang mungkin senang mengabadikan foto diri atau selfie di tempat-tempat tinggi atau berbahaya. Muncul pertanyaan, bagaimana mencegah kematian akibat kecelakaan saat berswafoto?
Ironisnya, ponsel itu sendiri bisa jadi pencegah kematian akibat swafoto, kata dua orang pakar kedokteran.
Ratusan orang sudah kehilangan nyawa karena kecelakaan saat berswafoto demi menarik perhatian para pengikut atau follower media sosial. Namun teknologi ponsel yang menggunakan lokasi global positioning system (GPS) atau mengukur ketinggian, bisa dimanfaatkan untuk mencegah kejadian nahas tersebut, menurut dua pakar itu, seperti dilansir kantor berita Reuters.
Dalam surat yang diterbitkan dalam jurnal “Wilderness & Environmental Medicine” Dr Gerard Flaherty dan Michael Smith, keduanya dari Universitas Nasional Ireland Galway, membahas bagaimana ponsel bisa digunakan untuk mengirimkan peringatan keselamatan kepada para pengguna yang hendak berswafoto di lokasi-lokasi yang berbahaya. Misalnya, di ujung tebing.
“Berdasarkan lokasi GPS atau ketinggian si turis, kami bisa menyarankan mungkin ada ruang untuk memberikan pesan-pesan verbal kepada pengguna saat ponsel mereka dalam posisi kamera, dan memperingatkan mereka bahwa mereka sudah hampir jatuh,” kata Flaherty dan Smith dalam tulisan mereka.
“Dalam kasus-kasus demikian, fungsi kamera bisa dinonaktifkan sampai pengguna berpindah dari zona berbahaya yang dilarang berswafoto,” papar kedua pakar itu.
Menurut penelitian, India adalah negara nomor satu di dunia dengan tingkat kematian tertinggi akibat swafoto. Diikuti oleh Rusia dan AS. Kebanyakan korban adalah para pemuda berusia dua puluh tahunan.
Teknologi ponsel masih terbilang baru untuk sebagian besar masyarakat India. Ditambah dengan internet murah, makin banyak orang India yang mengunggah foto-foto mereka agar mendapat pengakuan dari rekan-rekannya. Dan ini menjadi salah satu alasan dibalik swafoto yang beresiko, papar Ponnurangam Kumaraguru, lektor madya di Institut Teknologi Informasi Indraprasta di New Delhi.
Kumaraguru dan timnya sedang mengembangkan solusi teknologi untuk mengatasi masalah tersebut, termasuk Saftie, sebuah aplikasi yang mendapatkan data urun daya dari para penggunanya yang menandai lokasi-lokasi yang mereka anggap berbahaya.
Dia percaya intervensi-intervensi semacam ini kemungkinan besar bisa efektif. Apalagi jika data yang terkumpul dimanfaatkan oleh aplikasi populer seperti Google Maps.
Baca juga: Galaxy Note 10 Dibekali Pengisian Baterai Super Kencang?