TOKYO - Sejak pertama kali dipasarkan, Suzuki Jimny ternyata memiliki peminat yang sangat banyak hampir di seluruh dunia. Desain modern serta nama besar Jimny menjadi salah satu faktornya.
Di beberapa negara seperti Eropa, Suzuki telah menghentikan pemesanan bagi konsumen karena terbentur oleh kuota pengiriman. Kondisi tersebut juga terjadi di negara prinsipilnya di Jepang yang menyebabkan daftar inden mencapai 1 tahun.
Meski saat ini Suzuki Jepang tengah memperkuat kapasitas produksi untuk Jimny, yang menjadi permasalahan terjadinya daftar pemesanan tunggu mencapai waktu lama, karena Suzuki hanya menggunakan satu pabriknya yang terdapat di Kosai, Jepang.
“Di pasar rumah kami saja, masa tunggu untuk Jimny baru telah meningkat menjadi lebih dari satu tahun. Untuk memenuhi permintaan, pabrik Kosai kami telah meningkatkan hasil produksi. Dengan begitu, kami dapat mengirimkan unit di Jepang lebih cepat, serta mengekspor 4x4 baru lebih cepat di pasar lain selain milik kami, ”kata Suzuki.
Baca Juga: Suzuki Hidupkan Kembali Motor Trail Legenda
Ketika ditanya apakah perusahaan berencana untuk memulai beberapa produksi Jimny ke pabrik lain di dalam atau di luar Jepang, Suzuki mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk memindahkannya ke tempat lain selain Kosai.
“Meskipun akan sangat membantu dalam memenuhi permintaan pelanggan, kami ingin mempertahankan kualitas bangunan Jepang yang menjadikan Jimny 4x4 tangguh dan dapat diandalkan. Selain itu, jika kami mengalihkan produksi di tempat lain, pemasok lokal kami juga akan mengalami kesulitan mengirimkan komponen mereka ke pabrik lain, belum lagi biaya logistik tambahan, ”ungkap sumber Suzuki, seperti dikutip dari Autoindustiya, Kamis (7/2/2019).
Pasar Indonesia sendiri hingga saat ini, produsen Suzuki masih memperhitungkan untuk membuka penjualannya. Meski di ajang pameran GIIAS 2018, Suzuki Jimny telah diperkenalkan ke konsumen tanah air. Daftar panjang pemesan serta pertimbangan harga barang eksport dengan pajak tinggi menjadi salah satu pertimbangan Suzuki Jimny belum terdengar kabar hingga kini.
(Ahmad Luthfi)