Dalam studi terbaru mereka, yang akan diterbitkan dalam edisi mendatang Astrophysical Journal, para peneliti menggunakan teknik AI khusus yang dikenal sebagai pembelajaran mendalam untuk melihat apakah ada sinyal yang terlewatkan dalam penelitian awal mereka.
Siemion memberi Yunfan "Gerry" Zhang, seorang mahasiswa doktoral di Berkeley, tugas melatih algoritma pembelajaran mendalam untuk mencari semburan tambahan. AI yang terlatih dibelokkan untuk memilah-milah 400 terabyte data pengamatan. Ini merupakan sebuah data besar yang berisi data sebanyak yang terkandung dalam 40.000 jam video 4K.
Setelah sebulan bekerja, Zhang menemukan sekitar 100 semburan yang sebelumnya tidak terdeteksi. Untuk memastikan Zhang benar, para peneliti menggunakan perangkat lunak komputer standar untuk membersihkan sinyal yang berantakan dan menegaskan keberadaan setidaknya 72 semburan tambahan.
Baca juga: Arkeolog Temukan Batu Berukir Berusia Ribuan Tahun
"Pendekatan AI yang sama dapat membantu para astronom menemukan sumber pengulangan baru semburan radio cepat lebih dekat ke Bumi daripada FRB 121102. Jika sumber pengulang lebih dekat memang ada, astronom mungkin bisa mendapatkan pandangan yang lebih baik pada mereka menggunakan teleskop optik dan X-ray," imbuh Astrofisikawan Avi Loeb, Harvard.
(Ahmad Luthfi)