3. Garamond
Tipografi ini dirancang oleh orang Paris bernama Claude Garamond pada abad ke-16. Sejarahnya dapat ditelusuri kembali lebih jauh ke 1495. Lebih lanjut, desain mengikuti model serif Old Style yang awalnya didirikan oleh Venetian printer Aldus Manutius. Serta dirancang oleh punchcutter Francesco Griffo. Baik Garamond dan Caslon mempertahankan tampilan dan nuansa yang alami, hampir seperti tulisan tangan, tetapi dengan struktur yang kuat dan tak lekang oleh waktu.
4. Clarendon
Clarendon mulai populer sekitar tahun 1845. Desain aslinya diukir oleh punch-cutter bernama Benjamin Fox dan dikreditkan ke Robert Besley, mitra dalam jenis pengecoran Thorowgood and Co.
Popularitas Clarendon sedemikian rupa sehingga tampilan banyak ditiru. Meskipun banyak jenis font Clarendon, tipografi ini memiliki keunikannya sendiri. Faktor yang mendukung adalah huruf tebal dan padat dengan berat goresan yang relatif seragam dan serpihan lempengan yang agak meruncing. Hingga saat ini font tersebut masih populer di pencetakan letterpress dan woodblock.
5. Akzidenz Grotesk
Helvetica telah menjadi tipografi yang mendefinisikan seluruh generasi desainer grafis yang menganut prinsip desain Swiss pertengahan abad ke-20 atau dikenal sebagai Gaya Tipografi Internasional. Tapi Helvetica ternyata mengikuti jejak Akzidenz Grotesk, jenis sans-serif yang awalnya dirilis oleh Berthold Type Foundry yang berbasis di Berlin. Tipografi ini pertama kali dirilis pada tahun 1898, hampir 50 tahun sebelum Helvetica.
(Ahmad Luthfi)