Dalam beberapa tahun terakhir, psikolog datang dengan teori yang berbeda. Mereka mengusulkan bahwa humor muncul dari apa yang disebut pelanggaran jinak atau "sesuatu yang mengancam struktur kepercayaan diri, identitas atau norma seseorang, tapi secara bersamaan tampaknya baik-baik saja," tulis mereka dalam sebuah makalah baru-baru ini mengenai teori tersebut.
Pelanggaran jinak bisa menjelaskan mengapa beberapa hal membuat seseorang tertawa, termasuk digelitik. Artinya, menggelitik dengan ramah melanggar ruang fisik seseorang.
Anda tidak bisa menggelitik diri sendiri karena itu bukan merupakan pelanggaran dan orang asing tidak bisa menggelitik Anda sampai pada titik tawa karena Anda tidak akan melihatnya sebagai tindakan jinak.
Di bawah teori ini, berbagai hewan memang memiliki "humor", jika hanya karena bisa digelitik. Penelitian pada 2009 menunjukkan bahwa kerabat primata, simpanse, bonobos, gorila dan orangutan, semuanya menghasilkan suara seperti tawa saat digelitik (dan juga saat mereka bergulat dan bermain-mengejar).
Menarik, hewan yang paling banyak mendapat perhatian penelitian karena kemampuannya untuk digelitik dan tertawa adalah tikus. Ketika digelitik oleh orang-orang atau bermain kasar dan berantakan (dengan tikus dengan ukuran yang sama), tikus tersebut memancarkan kicauan ultrasonik 50 kHz. Mereka senang digelitik sehingga mereka benar-benar mengejar jari telunjuk peneliti.
(Ahmad Luthfi)