Pesawat tak berawak tersebut mampu terbang sejauh 100 km (62 mil) per jam, jauh lebih cepat daripada bepergian lewat jalur darat. Sebuah paket dijatuhkan dengan menggunakan parasut biodegradable.
Pemerintah berharap, drone ini dapat menyelamatkan nyawa ribuan wanita juga yang meninggal akibat pendarahan hebat setelah melahirkan. Tanzania memiliki salah satu angka terbesar soal kematian ibu hamil terburuk di dunia, dengan 556 kematian per 100.000 kelahiran, menurut data pemerintah.
"Ini adalah masalah yang bisa kami bantu selesaikan dengan pengiriman drone on-demand. Negara-negara Afrika menunjukkan kepada dunia bagaimana hal itu dilakukan," ujar kepala eksekutif Zipline, Keller Rinaudo mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Perusahaan di Amerika Serikat dan tempat lain juga sangat antusias untuk menggunakan pesawat tak berawak ini, untuk mengurangi waktu dan biaya pengiriman. Namun hal ini pun tak luput dari rintangan tentunya, mulai dari risiko benturan dengan pesawat terbang.
Menurut Departemen Pembangunan Internasional Inggris, untuk memastikan keselamatan dan umur baterai, drone tersebut akan meminta tagihan pengiriman obat untuk ibu kota Tanzania yakni Dodoma, satu dari dua wilayah di mana proyek tersebut akan diluncurkan pertama kali, sebesar USD58.000 per tahun.
(Kemas Irawan Nurrachman)