Pada 2015 lalu, Telegram dilaporkan menjadi sarang perkumpulan kelompok teroris ISIS di dunia maya. Menurut penuturan Wikipedia, sejak dibuka pada Oktober di tahun yang sama, ISIS telah sukses menggandakan jumlah pengikutnya menjadi 9.000 akun.
Kelompok tersebut memanfaatkan fitur channel dan menjaring pengikut baru. ISIS juga memanfaatkan channel Telegram untuk memberikan informasi cara merakit bom serta perintah teror lainnya.
Setelah diketahui menjadi sarang perkumpulan para teroris, Telegram akhirnya mengklaim telah memblokir 78 channel publik yang dioperasikan ISIS pada November 2015.
Diblokir di Indonesia
Meski demikian setelah dilakukan pemblokiran oleh pihak Telegram, bukan berarti channel atau saluran baru yang berkaitan dengan aksi teror langsung bersih. Channel tersebut ternyata masih bisa ditemukan.